Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penurunan Kelas Menengah di Indonesia Tertekan Biaya Hidup

Jumlah warga kelas menengah di Indonesia turun drastis dari 57,33 juta pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024, dipengaruhi kenaikan biaya hidup dan ketidakstabilan ekonomi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 15.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Penurunan Kelas Menengah di Indonesia Tertekan Biaya Hidup
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan tren menurunnya populasi kelas menengah di Tanah Air, dari 57,33 juta orang atau 21,45% dari total penduduk pada 2019, turun menjadi 47,85 juta atau 17,13% pada 2024. Angka ini mencerminkan penurunan sebanyak 9,48 juta jiwa yang terdampak tekanan ekonomi, termasuk inflasi tinggi dan ketidakpastian lapangan kerja. Fenomena ini menunjukkan pergeseran struktur sosial ekonomi yang semakin menekan akses masyarakat terhadap stabilitas finansial.

Orang yang termasuk kelas menengah atas ditandai oleh kemampuan mempertahankan kehidupan layak meski telah memenuhi kebutuhan pokok dan investasi besar. Mereka tidak mengalami tekanan finansial saat menghadapi pengeluaran tak terduga, karena memiliki dana cadangan dan keamanan keuangan yang kuat. Dalam praktiknya, mereka mampu menikmati liburan rutin, makan malam di restoran favorit, atau membiayai kebutuhan pribadi tanpa perlu khawatir kehabisan uang.

Kepemilikan aset beragam seperti properti sewaan dan saham menjadi ciri khas kelas menengah atas. Banyak dari mereka mampu melunasi hipotek lebih awal tanpa mengurangi kualitas hidup. Lokasi tinggal juga menjadi indikator, terutama tinggal di daerah dengan nilai properti tinggi dan kualitas fasilitas publik yang baik, meski hal ini bukan satu-satunya penentu. Yang lebih penting, mereka tidak terjebak dalam perbandingan sosial atau gaya hidup konsumtif.

Pendidikan tinggi menjadi salah satu investasi utama yang dapat dipenuhi tanpa utang. Mereka mampu menanggung biaya kuliah, pelatihan, atau pendidikan anak tanpa beban keuangan jangka panjang. Hal ini mencerminkan kemandirian finansial yang tinggi. Lebih dari itu, kemampuan untuk pensiun lebih awal menjadi realistis karena adanya pendapatan pasif dan portofolio investasi yang terdiversifikasi.

Kunci utama kelas menengah atas adalah memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, baik melalui bisnis, investasi, atau pendapatan pasif. Berbeda dengan kelas menengah atau bawah yang bergantung pada gaji tetap, mereka memiliki fleksibilitas finansial yang memungkinkan pengambilan keputusan hidup tanpa tekanan ekonomi. Ini menjadikan mereka lebih bebas dalam memilih pekerjaan, waktu, dan gaya hidup.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya