Penurunan Kelas Menengah di Indonesia Tertekan Biaya Hidup
Jumlah warga kelas menengah di Indonesia turun drastis dari 57,33 juta pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024, dipengaruhi kenaikan biaya hidup dan ketidakstabilan ekonomi.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 15.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan tren menurunnya populasi kelas menengah di Tanah Air, dari 57,33 juta orang atau 21,45% dari total penduduk pada 2019, turun menjadi 47,85 juta atau 17,13% pada 2024. Angka ini mencerminkan penurunan sebanyak 9,48 juta jiwa yang terdampak tekanan ekonomi, termasuk inflasi tinggi dan ketidakpastian lapangan kerja. Fenomena ini menunjukkan pergeseran struktur sosial ekonomi yang semakin menekan akses masyarakat terhadap stabilitas finansial.
Orang yang termasuk kelas menengah atas ditandai oleh kemampuan mempertahankan kehidupan layak meski telah memenuhi kebutuhan pokok dan investasi besar. Mereka tidak mengalami tekanan finansial saat menghadapi pengeluaran tak terduga, karena memiliki dana cadangan dan keamanan keuangan yang kuat. Dalam praktiknya, mereka mampu menikmati liburan rutin, makan malam di restoran favorit, atau membiayai kebutuhan pribadi tanpa perlu khawatir kehabisan uang.
Kepemilikan aset beragam seperti properti sewaan dan saham menjadi ciri khas kelas menengah atas. Banyak dari mereka mampu melunasi hipotek lebih awal tanpa mengurangi kualitas hidup. Lokasi tinggal juga menjadi indikator, terutama tinggal di daerah dengan nilai properti tinggi dan kualitas fasilitas publik yang baik, meski hal ini bukan satu-satunya penentu. Yang lebih penting, mereka tidak terjebak dalam perbandingan sosial atau gaya hidup konsumtif.
Pendidikan tinggi menjadi salah satu investasi utama yang dapat dipenuhi tanpa utang. Mereka mampu menanggung biaya kuliah, pelatihan, atau pendidikan anak tanpa beban keuangan jangka panjang. Hal ini mencerminkan kemandirian finansial yang tinggi. Lebih dari itu, kemampuan untuk pensiun lebih awal menjadi realistis karena adanya pendapatan pasif dan portofolio investasi yang terdiversifikasi.
Kunci utama kelas menengah atas adalah memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, baik melalui bisnis, investasi, atau pendapatan pasif. Berbeda dengan kelas menengah atau bawah yang bergantung pada gaji tetap, mereka memiliki fleksibilitas finansial yang memungkinkan pengambilan keputusan hidup tanpa tekanan ekonomi. Ini menjadikan mereka lebih bebas dalam memilih pekerjaan, waktu, dan gaya hidup.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


