Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penutupan 6 Bandara Akibat Erupsi GAK Belum Dihitung Kerugiannya

Pemerintah belum menetapkan angka kerugian sektor penerbangan akibat penutupan enam bandara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, karena fokus masih pada penanganan penumpang dan pemantauan kondisi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 19.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Penutupan 6 Bandara Akibat Erupsi GAK Belum Dihitung Kerugiannya
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah belum mampu menghitung secara pasti kerugian ekonomi yang dialami sektor penerbangan pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, menyusul penutupan sementara enam bandara di wilayah Jawa dan Sumatra. Penutupan ini diberlakukan sebagai tindakan pencegahan menyusul penyebaran abu vulkanik yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Menteri Perhubungan menegaskan bahwa proses perhitungan dampak keuangan masih dalam tahap awal dan belum dapat disampaikan secara resmi.

Operasional bandara yang terdampak mulai dihentikan sejak dini hari, termasuk Bandara Radin Inten di Lampung, Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta, Pondok Cabe, serta Budiarto di Tangerang. Setelah evaluasi lebih lanjut pada siang hari, Bandara Husein Sastranegara di Bandung juga ikut ditutup karena terpapar abu vulkanik. Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi dari otoritas penerbangan dan hasil pemantauan kondisi atmosfer.

Saat ini, fokus utama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan adalah memastikan kebutuhan penumpang terdampak terpenuhi, termasuk penanganan perjalanan, akomodasi, dan informasi terkini. Semua maskapai dan instansi terkait sedang menyesuaikan jadwal penerbangan dan melakukan koordinasi dengan otoritas bandara untuk meminimalkan dampak terhadap publik.

Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, sehingga operasional bandara tidak akan dipulihkan sebelum kondisi dinilai aman. Penutupan akan terus dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan erupsi dan penyebaran abu vulkanik. Dalam situasi darurat seperti ini, perhitungan kerugian ekonomi belum menjadi prioritas, melainkan penanganan darurat dan pemulihan layanan secara bertahap.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya