Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penutupan Delapan Bandara Akibat Abu Vulkanik, Menhub Dorong Penggunaan Transportasi Lain

Pemerintah mengimbau masyarakat dan pelaku usaha beralih ke kereta api, bus, dan kapal laut menyusul penutupan delapan bandara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 22.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Penutupan Delapan Bandara Akibat Abu Vulkanik, Menhub Dorong Penggunaan Transportasi Lain
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi darurat di sejumlah bandara di Jawa dan Banten dipicu oleh sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, yang mengancam keselamatan penerbangan. Menteri Perhubungan menegaskan bahwa delapan bandara telah ditutup sementara untuk mencegah risiko operasional pesawat. Penutupan dilakukan secara bertahap, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta hingga Bandara Husein Sastranegara Bandung, dengan waktu penutupan bervariasi tergantung tingkat dampak abu.

Dalam upaya menjaga kelancaran mobilitas dan distribusi barang, pemerintah telah menyiapkan skema pengalihan moda transportasi. Kereta api, khususnya di Pulau Jawa, menjadi alternatif utama untuk perjalanan penumpang, sementara bus dan transportasi darat lainnya juga dimaksimalkan. Pemerintah menekankan bahwa moda transportasi laut tetap beroperasi normal dan belum terdampak oleh abu vulkanik, sehingga menjadi pilihan strategis bagi logistik dan perjalanan lintas wilayah.

Kementerian Perhubungan mengimbau seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan pelaku usaha, untuk tidak terlalu mengandalkan penerbangan selama situasi berlangsung. Dengan adanya alternatif yang tersedia, diharapkan aktivitas ekonomi dan pergerakan orang tetap berjalan lancar meskipun sebagian layanan udara terhenti. Penyesuaian ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas distribusi logistik, terutama di wilayah yang sebelumnya sangat bergantung pada akses udara.

Penutupan bandara dilakukan berdasarkan hasil pengujian lapangan dan pemantauan real-time terhadap konsentrasi abu vulkanik. Pemerintah tetap memantau perkembangan secara intensif dan siap membuka kembali operasional bandara jika kondisi memungkinkan. Dalam waktu dekat, evaluasi rutin akan dilakukan untuk menentukan kapan layanan penerbangan bisa kembali normal tanpa mengorbankan keselamatan penerbangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya