Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perdagangan Satwa Liar Ilegal di Dunia Digital Ancam Keanekaragaman Hayati

Studi global mengungkap puluhan ribu spesies langka diperjualbelikan ilegal melalui platform daring, menimbulkan ancaman serius terhadap konservasi global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 21.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Perdagangan Satwa Liar Ilegal di Dunia Digital Ancam Keanekaragaman Hayati
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perdagangan satwa liar secara ilegal di ruang digital telah menunjukkan skala yang mengkhawatirkan, dengan ratusan ribu eksemplar spesies terancam punah ditemukan di berbagai platform digital di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan konservasi dari berbagai negara mengidentifikasi adanya aktivitas perdagangan daring yang melibatkan media sosial, e-commerce, dan situs pencarian, di mana banyak penjual memanfaatkan anonimitas dan kekurangan pengawasan ketat untuk menyelundupkan hewan hidup maupun bagian tubuhnya.

Dalam survei selama enam minggu terhadap 280 platform digital, ditemukan 33.006 spesimen yang berasal dari spesies berisiko tinggi menurut standar CITES, baik dalam bentuk hewan hidup maupun hasil turunan seperti kulit, cula, atau tulang. Sebanyak 54 persen di antaranya adalah hewan hidup yang dijual sebagai peliharaan, sementara sisanya merupakan produk dari pembunuhan hewan liar untuk keperluan perdagangan. Banyak dari spesies ini termasuk dalam kategori hampir punah atau rentan, sehingga perdagangan mereka dapat mempercepat kepunahan alami.

Kondisi ini tidak hanya membahayakan spesies secara langsung, tetapi juga memperbesar risiko penyebaran penyakit zoonosis dan penyebaran spesies invasif yang dapat merusak ekosistem alami. Peneliti menyebut bahwa kompleksitas jaringan perdagangan daring, yang tersebar lintas negara dan sering kali menyamarkan asal-usul hewan, membuat upaya pencegahan dan penegakan hukum menjadi semakin sulit. Bahkan, beberapa platform khusus menyediakan konten terkonsentrasi pada jenis tertentu, seperti cula badak atau primata sebagai hewan peliharaan, yang memperkuat pola perdagangan terorganisir.

Para peneliti menekankan perlunya pendekatan terpadu yang melibatkan penguatan regulasi, peningkatan kapasitas teknologi deteksi, serta keterlibatan komunitas lokal dan masyarakat umum dalam upaya konservasi. Solusi jangka panjang harus mencakup edukasi, kolaborasi lintas negara, dan peningkatan transparansi platform digital. Tanpa langkah strategis yang komprehensif, ancaman terhadap keanekaragaman hayati akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya