Perdagangan Satwa Liar Ilegal di Dunia Digital Ancam Keanekaragaman Hayati
Studi global mengungkap puluhan ribu spesies langka diperjualbelikan ilegal melalui platform daring, menimbulkan ancaman serius terhadap konservasi global.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 21.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Perdagangan satwa liar secara ilegal di ruang digital telah menunjukkan skala yang mengkhawatirkan, dengan ratusan ribu eksemplar spesies terancam punah ditemukan di berbagai platform digital di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan konservasi dari berbagai negara mengidentifikasi adanya aktivitas perdagangan daring yang melibatkan media sosial, e-commerce, dan situs pencarian, di mana banyak penjual memanfaatkan anonimitas dan kekurangan pengawasan ketat untuk menyelundupkan hewan hidup maupun bagian tubuhnya.
Dalam survei selama enam minggu terhadap 280 platform digital, ditemukan 33.006 spesimen yang berasal dari spesies berisiko tinggi menurut standar CITES, baik dalam bentuk hewan hidup maupun hasil turunan seperti kulit, cula, atau tulang. Sebanyak 54 persen di antaranya adalah hewan hidup yang dijual sebagai peliharaan, sementara sisanya merupakan produk dari pembunuhan hewan liar untuk keperluan perdagangan. Banyak dari spesies ini termasuk dalam kategori hampir punah atau rentan, sehingga perdagangan mereka dapat mempercepat kepunahan alami.
Kondisi ini tidak hanya membahayakan spesies secara langsung, tetapi juga memperbesar risiko penyebaran penyakit zoonosis dan penyebaran spesies invasif yang dapat merusak ekosistem alami. Peneliti menyebut bahwa kompleksitas jaringan perdagangan daring, yang tersebar lintas negara dan sering kali menyamarkan asal-usul hewan, membuat upaya pencegahan dan penegakan hukum menjadi semakin sulit. Bahkan, beberapa platform khusus menyediakan konten terkonsentrasi pada jenis tertentu, seperti cula badak atau primata sebagai hewan peliharaan, yang memperkuat pola perdagangan terorganisir.
Para peneliti menekankan perlunya pendekatan terpadu yang melibatkan penguatan regulasi, peningkatan kapasitas teknologi deteksi, serta keterlibatan komunitas lokal dan masyarakat umum dalam upaya konservasi. Solusi jangka panjang harus mencakup edukasi, kolaborasi lintas negara, dan peningkatan transparansi platform digital. Tanpa langkah strategis yang komprehensif, ancaman terhadap keanekaragaman hayati akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PMI Manufaktur RI Masih di Zona Kontraksi
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026, tercatat di level 49,8, menunjukkan penurunan aktivitas produksi.
9 September 2026

Imos 2026 Siap Hadirkan Solusi Mobilitas Modern di Tangerang
Pameran sepeda motor terbesar Tanah Air bakal digelar 20–29 November 2026 di ICE BSD City, menawarkan inovasi teknologi dan beragam solusi mobilitas produktif bagi masyarakat.
8 September 2026

Dana Desa Rp40 T Siap Lunasi Cicilan Kopdes Merah Putih
Pemerintah menjamin pembayaran cicilan proyek Koperasi Desa Merah Putih tidak akan membebani bank negara berkat alokasi dana desa Rp40 triliun per tahun selama enam tahun.
8 September 2026

237 SPBU di Jatim, Bali, NTB, dan NTT Diberi Sanksi BBM Subsidi
Pertamina menerapkan sanksi terhadap 237 SPBU di lima wilayah karena pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi hingga September 2026.
8 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


