Permintaan Kapal Tambang Anjlok, Galangan Kapal Alihkan Produksi ke BBM
Penurunan drastis permintaan kapal tongkang dan tugboat dari sektor tambang menyebabkan galangan kapal nasional menyesuaikan produksi ke pengangkutan bahan bakar minyak.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 09.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 95x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Permintaan kapal untuk kebutuhan pertambangan di dalam negeri mengalami penurunan signifikan, mencapai hingga 60% dalam periode satu tahun terakhir. Fenomena ini terjadi seiring melemahnya aktivitas eksplorasi dan ekspor mineral, yang berdampak langsung pada sektor galangan kapal. Sebagai respons, industri perkapalan mulai mengalihkan fokus produksi dari kapal khusus tambang menuju kapal yang mendukung logistik energi, khususnya pengangkutan bahan bakar minyak.
Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) menyebutkan bahwa pergeseran arah produksi telah terjadi secara nyata. Ia menegaskan bahwa kebutuhan akan tongkang dan tugboat—yang sebelumnya menjadi dominasi produksi—kini berkurang drastis. Sebaliknya, kapal-kapal seperti tanker, mini tanker, dan SPOB (Self-Propelled Oil Barge) kini menjadi prioritas pembangunan. Perubahan ini didorong oleh dinamika pasar dan kebutuhan logistik energi yang terus tumbuh.
Dengan kapasitas pembangunan sekitar 1.200 kapal baru per tahun, anggota Iperindo mampu memenuhi berbagai kebutuhan, baik dari sektor pemerintah, BUMN, maupun swasta. Selain pembangunan baru, kapasitas perbaikan dan perawatan kapal juga menjadi bagian penting dari ekosistem industri. Kemampuan ini diperlukan untuk menjaga kelancaran operasional armada, terutama dalam distribusi energi dan logistik maritim.
Pemerintah terus mendorong transformasi industri perkapalan nasional melalui kebijakan strategis. Rencana jangka menengah 2026–2030 menargetkan peningkatan kapasitas galangan di luar Jawa dan Batam, dengan kemampuan membangun kapal hingga 30.000 DWT. Sementara itu, kapasitas produksi tanker ditargetkan mencapai 60.000 DWT, sebagai upaya memperkuat ketahanan nasional di bidang transportasi maritim dan energi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis
Investasi terkoordinasi dan rantai pasok yang kuat menjadi kunci utama untuk mengeksploitasi nilai tambah tinggi dari mineral kritis di Indonesia.
24 Oktober 2026

Antam Siap Kelola Tambang Emas Baru di Papua
Pemerintah menutup operasional tambang emas PT Kristalin Eka Lestari di Nabire dan menyerahkan kawasan seluas 275,36 hektare kepada PT Aneka Tambang Tbk untuk pengelolaan berkelanjutan.
24 Oktober 2026

ANTAM Perkuat Fondasi Bisnis untuk Nilai Tambah Jangka Panjang
Perusahaan tambang nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan di semester pertama 2026, dengan pendapatan Rp62,71 triliun dan laba naik 34%, seiring fokus pada hilirisasi dan optimalisasi operasional.
24 Oktober 2026

Bahlil Usung PNBP Batu Bara Rp165 T untuk Tutup Defisit BBM
Menteri ESDM membidik penerimaan negara bukan pajak dari batu bara tembus Rp165 triliun pada 2026, lebih tinggi dari target APBN, demi menopang defisit subsidi BBM.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya
Ai Lian Rayakan Ulang Tahun ke-7 dengan Perayaan Khusus di Chongqing
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.34 WITA

16 Wilayah Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Hari Ini
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.34 WITA

Musim Hujan 2026/2027 Tiba Lebih Lambat, BMKG Peringatkan Potensi Bencana
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.33 WITA

NASA Tancap Gas untuk Misi Pendaratan Manusia di Bulan 2028
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.33 WITA

PLN Gelar Diskon Tambah Daya 50% Hingga 4 November
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.33 WITA

Presiden Korea Selatan Buka Pintu Debat Politik Lewat AI
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.33 WITA

IKN Tandatangani Kerja Sama Rp4 Triliun untuk Percepatan Pembangunan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.33 WITA

Filipina Perkuat Perlindungan Pekerja dari Panas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.33 WITA

