Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perseteruan Internal Tata Group Usai Keputusan Listing

Konflik internal di Tata Group memuncak setelah dewan menyetujui perpanjangan jabatan N. Chandrasekaran, mengabaikan keberatan Noel Tata yang memimpin Tata Trusts sejak 2024.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 17.55 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Perseteruan Internal Tata Group Usai Keputusan Listing📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketegangan internal di Tata Group mencapai puncaknya setelah rapat dewan direksi Tata Sons pada 17 September memutuskan memperpanjang masa jabatan N. Chandrasekaran untuk periode ketiga. Keputusan ini ditempuh dengan suara mayoritas, melawan penolakan dari Noel Tata, pemimpin Tata Trusts yang menguasai sekitar dua pertiga saham perusahaan. Ia menilai proses pemungutan suara tidak sah dan menekankan pentingnya menjaga integritas misi keluarga yang telah lama menjadi fondasi grup.

Ketegangan ini bermula dari perintah Bank Sentral India (RBI) pada 2022 yang mewajibkan Tata Sons, sebagai entitas investasi sistemik, mencatatkan sahamnya di pasar modal. Dalam konteks ini, manajemen Tata Sons yang dipimpin Chandrasekaran menyatakan kesiapan untuk mematuhi aturan tersebut, sementara Noel Tata bersikeras bahwa struktur kepemilikan saat ini dirancang untuk menjaga keberlangsungan misi sosial dan nasional yang telah dijalankan selama puluhan tahun. Pendapatan tahunan dari dividen Tata Sons yang mengalir ke trust mencapai ratusan juta dolar AS, digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan program kemanusiaan, termasuk alokasi lebih dari US$100 juta pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025.

Keputusan dewan menandai perubahan signifikan dalam arah kepemimpinan. Sebelumnya, Chandrasekaran sempat menyatakan ingin mengundurkan diri pada Februari mendatang karena kurangnya dukungan dari salah satu anggota dewan—yang diperkirakan adalah Noel Tata. Namun, dukungan dari seluruh anggota dewan lainnya, termasuk Venu Srinivasan yang juga mewakili Tata Trusts, membuatnya memilih tetap bertahan. Ia menilai momentum penting perusahaan, termasuk rencana ekspansi di sektor semikonduktor, elektronik, dan pemulihan Air India, membutuhkan kestabilan kepemimpinan.

Dampak krisis kepemimpinan mulai terasa di pasar modal. Sekitar 26 perusahaan tercatat milik Tata memiliki kapitalisasi pasar hampir US$280 miliar pada Maret 2025. Beberapa pekan terakhir, fluktuasi internal mengurangi nilai saham sejumlah entitas grup. Pendukung listing menilai proses tersebut penting untuk meningkatkan transparansi dan memperluas akses pendanaan, terutama untuk proyek besar seperti pembangunan pabrik semikonduktor dan produksi iPhone di India. Tanpa listing, keberlanjutan investasi besar dipertanyakan, terlebih dengan ketergantungan tinggi pada laba dari Tata Consultancy Services (TCS), yang rentan terhadap perubahan teknologi seperti kecerdasan buatan.

Beberapa pakar tata kelola mengaitkan krisis ini dengan proses suksesi yang belum merata pasca wafatnya Ratan Tata pada 2024. Shriram Subramanian dari InGovern Research Services menilai konflik bisa diminimalkan jika Noel diberi peran lebih awal saat Ratan masih hidup. Sementara itu, pengacara Harish Salve menekankan bahwa listing menjadi langkah strategis untuk menjamin tata kelola perusahaan yang tinggi, sejalan dengan harapan pemegang saham seperti Shapoorji Pallonji Group yang ingin melepas sebagian kepemilikannya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya