Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

PLTS 100 GWp Siap Ciptakan 5,5 Juta Lapangan Kerja

Program pembangunan PLTS 100 GWp dinilai mampu menciptakan 5,5 juta lapangan kerja, menghemat anggaran negara Rp73,9 triliun, serta mengurangi emisi karbon 140 juta ton.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 22.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
PLTS 100 GWp Siap Ciptakan 5,5 Juta Lapangan Kerja
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) mampu menciptakan lapangan kerja hingga 5,5 juta orang. Angka ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa proyek ini bukan hanya fokus pada peningkatan kapasitas listrik bersih, tetapi juga transformasi struktural terhadap industri dalam negeri.

Dalam kesempatan acara Indo EBTKE ConEx and Exhibition 2026 di JIExpo Kemayoran, Eniya menegaskan bahwa program ini telah resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut potensi penghematan anggaran negara mencapai Rp73,9 triliun selama periode operasional, sementara dampak lingkungan berupa pengurangan emisi karbon diperkirakan mencapai 140 juta ton. Dua dampak strategis ini menjadi dasar kuat bagi percepatan realisasi proyek di berbagai wilayah.

Pelaksanaan tahap awal telah dimulai dengan proyek 5,3 GW yang diluncurkan di Bali pada Agustus 2026. Kini, pemerintah tengah menyusun kerangka regulasi pendukung, termasuk rancangan peraturan presiden yang menjadi pedoman utama dalam pengembangan PLTS skala besar. Langkah ini diambil untuk menjamin keteraturan, kepastian hukum, serta efisiensi implementasi di lapangan.

Eniya menekankan pentingnya keterlibatan tenaga kerja dan produk lokal dalam seluruh proses pembangunan. Ia menyoroti keharusan industri dalam negeri untuk mempersiapkan kapasitas produksi panel surya dan peralatan pendukung secara cepat. “Jika sekarang ada pesanan 1 gigawatt, waktu shaping-nya enam bulan—itu terlalu lama. Maka dari itu, industri harus mulai membangun kapasitas produksi sel surya sejak sekarang,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap ketergantungan terhadap impor dapat diminimalkan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya