Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Polisi Ungkap Dua Sketsa Pelaku Kericuhan Pejompongan

Polda Metro Jaya menyebut telah memiliki dua sketsa wajah terduga pelaku penganiayaan yang menyebabkan kematian dalam kerusuhan Pejompongan, berdasarkan analisis saksi dan rekaman digital.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 15.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Polisi Ungkap Dua Sketsa Pelaku Kericuhan Pejompongan
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya telah berhasil mengidentifikasi dua profil wajah terduga pelaku penganiayaan yang berujung pada kematian seorang warga di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada 27 Agustus 2026. Penemuan ini disampaikan langsung oleh Kombes Pol Iman Imanuddin dalam konferensi pers di markas kepolisian, sebagai bagian dari upaya pengungkapan peristiwa kerusuhan yang melibatkan sejumlah massa dan menimbulkan korban jiwa.

Sketsa pertama menggambarkan sosok laki-laki berusia 30 hingga 40 tahun dengan ciri khas wajah oval, alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata berwarna hitam, serta kulit berwarna coklat. Sketsa kedua menampilkan laki-laki dengan bentuk wajah kotak, hidung pesek, bibir bawah tebal, memiliki kumis dan janggut, mata hitam, dan kulit coklat serupa. Kedua gambar hasil pengolahan data dari rekaman CCTV dan konten media sosial yang terkait kejadian.

Proses penyelidikan telah melibatkan pemeriksaan terhadap 14 saksi, termasuk keluarga korban, serta uji laboratorium terhadap video dan rekaman digital yang menjadi bukti pendukung. Dari hasil tersebut, polisi menetapkan 47 orang sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana kekerasan dan perusakan fasilitas umum yang terjadi saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR-MPR RI dan sekitar Pejompongan.

Korban tewas, Bambang Setiyawan (59), seorang pedagang cermin, ditemukan meninggal dunia setelah keluar dari rumahnya pada malam kejadian. Istri korban, Sudarsi (56), mengungkapkan bahwa suaminya masih berjualan hingga pukul 16.30 WIB, namun karena melihat massa mulai memadati area, ia meminta Bambang menutup usaha lebih awal. Ia menyatakan keterkejutannya saat mengetahui suaminya tewas, mengingat aktivitas berjualan baru berakhir sekitar pukul 18.00.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya