Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Potensi Bioetanol Dorong Kemandirian Energi Nasional

Indonesia perlu percepat pengembangan bioetanol untuk kurangi ketergantungan impor bensin, dengan target penerapan E10 mulai 2027 dan E20 pada 2028–2029.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.10 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Potensi Bioetanol Dorong Kemandirian Energi Nasional📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia kini menghadapi tekanan fiskal akibat ketergantungan tinggi terhadap impor bensin, yang menempatkannya sebagai importir bensin terbesar dunia. Dalam forum terkait transformasi energi, seorang pakar otomotif menyampaikan bahwa pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar campuran bensin menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban devisa dan memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan konsumsi energi yang terus meningkat, diperlukan alternatif yang dapat menopang kebutuhan tanpa memperparah defisit neraca perdagangan.

Penerapan campuran etanol dalam bensin, seperti E10 dan E20, disebut mampu menekan jumlah impor bensin yang mencapai ratusan ribu barel per hari. Jika terus berlanjut, beban rupiah terus terdorong karena nilai tukar mata uang asing terus terkuras. Oleh karena itu, pengembangan bioetanol domestik menjadi krusial untuk menjaga stabilitas fiskal jangka panjang dan membangun ekosistem energi yang berkelanjutan.

Namun, tantangan utama terletak pada ketersediaan bahan baku yang belum cukup memadai. Berbeda dengan biodiesel yang telah memanfaatkan limbah kelapa sawit secara luas, produksi bioetanol membutuhkan lahan yang besar dan waktu panen yang panjang—minimal lima hingga sepuluh tahun sejak tanam hingga panen. Keterbatasan infrastruktur dan pengembangan lahan perlu diatasi agar produksi dalam negeri bisa mencukupi kebutuhan saat penerapan kebijakan mandatori mulai dilaksanakan.

Pemerintah menargetkan penerapan bahan bakar campuran E10 dimulai pada 2027, disusul E20 pada 2028–2029 secara bertahap. Saat ini, Pertamina telah memperkenalkan produk Pertamax Green berbasis E5 sebagai langkah awal. Industri otomotif dalam negeri juga telah menunjukkan kesiapan teknis, termasuk produksi mesin kendaraan fleksibel yang sudah diekspor ke negara lain. Meski demikian, impor bahan baku etanol masih menjadi opsi yang tak terhindarkan dalam tahap transisi hingga produksi domestik mencapai kapasitas penuh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya