Potensi Bioetanol Dorong Kemandirian Energi Nasional
Indonesia perlu percepat pengembangan bioetanol untuk kurangi ketergantungan impor bensin, dengan target penerapan E10 mulai 2027 dan E20 pada 2028–2029.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.10 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indonesia kini menghadapi tekanan fiskal akibat ketergantungan tinggi terhadap impor bensin, yang menempatkannya sebagai importir bensin terbesar dunia. Dalam forum terkait transformasi energi, seorang pakar otomotif menyampaikan bahwa pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar campuran bensin menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban devisa dan memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan konsumsi energi yang terus meningkat, diperlukan alternatif yang dapat menopang kebutuhan tanpa memperparah defisit neraca perdagangan.
Penerapan campuran etanol dalam bensin, seperti E10 dan E20, disebut mampu menekan jumlah impor bensin yang mencapai ratusan ribu barel per hari. Jika terus berlanjut, beban rupiah terus terdorong karena nilai tukar mata uang asing terus terkuras. Oleh karena itu, pengembangan bioetanol domestik menjadi krusial untuk menjaga stabilitas fiskal jangka panjang dan membangun ekosistem energi yang berkelanjutan.
Namun, tantangan utama terletak pada ketersediaan bahan baku yang belum cukup memadai. Berbeda dengan biodiesel yang telah memanfaatkan limbah kelapa sawit secara luas, produksi bioetanol membutuhkan lahan yang besar dan waktu panen yang panjang—minimal lima hingga sepuluh tahun sejak tanam hingga panen. Keterbatasan infrastruktur dan pengembangan lahan perlu diatasi agar produksi dalam negeri bisa mencukupi kebutuhan saat penerapan kebijakan mandatori mulai dilaksanakan.
Pemerintah menargetkan penerapan bahan bakar campuran E10 dimulai pada 2027, disusul E20 pada 2028–2029 secara bertahap. Saat ini, Pertamina telah memperkenalkan produk Pertamax Green berbasis E5 sebagai langkah awal. Industri otomotif dalam negeri juga telah menunjukkan kesiapan teknis, termasuk produksi mesin kendaraan fleksibel yang sudah diekspor ke negara lain. Meski demikian, impor bahan baku etanol masih menjadi opsi yang tak terhindarkan dalam tahap transisi hingga produksi domestik mencapai kapasitas penuh.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemotor Histeris Minta Jalan untuk Ayah Kritis Dihadapkan pada Iringan Pejabat
Seorang pengendara motor marah-marah meminta jalan saat rombongan pejabat melintas, mengaku ayahnya dalam kondisi kritis, dan menuntut prioritas yang seharusnya diberikan kepada ambulans.
2 Oktober 2026

Skytrain Bermesin Jadi Alternatif Feeder Transportasi Perkotaan
Kemenhub kaji penerapan Skytrain bermesin sebagai moda feeder LRT/MRT dengan biaya Rp320 miliar per kilometer dan operasional Rp32 miliar/tahun.
2 Oktober 2026

MK Tegaskan Wajibnya Alasan Tertulis Sebelum Blokir Konten
Mahkamah Konstitusi memutuskan pemerintah harus berikan alasan tertulis sebelum blokir konten digital, jamin hak ekspresi warga.
2 Oktober 2026

Air Mengalir dari Atap Pesawat, Penumpang Emosi
Sebuah penerbangan Emirates dari Dubai ke Istanbul mengalami kebocoran air deras dari langit-langit kabin, memicu ketidaknyamanan dan kekecewaan penumpang.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lelang Batik Karya Desainer Dorong Permodalan UMKM Perempuan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

MA Setujui Permohonan Pemakzulan Bupati Gowa
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

Insentif SPPG Rp2.000 Harus Disertai Standar Mutu Ketat
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.28 WITA

ISF 2026 Tekankan Kolaborasi Global untuk Ekonomi Berkelanjutan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Anggota DPR Puji Kinerja Basarnas dalam Operasi SAR KM Virgo
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Program Asuransi BMN Perluas Cakupan ke 20+ Kementerian
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Indonesia Perkuat Kemitraan Ekonomi dengan Jerman 2026
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.27 WITA

Suyudi Ario Seto Resmi Jabat Kapolri, Mulai Era Baru Kepemimpinan
Jumat, 2 Oktober 2026, 23.26 WITA

