Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Skytrain Bermesin Jadi Alternatif Feeder Transportasi Perkotaan

Kemenhub kaji penerapan Skytrain bermesin sebagai moda feeder LRT/MRT dengan biaya Rp320 miliar per kilometer dan operasional Rp32 miliar/tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Skytrain Bermesin Jadi Alternatif Feeder Transportasi Perkotaan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Perhubungan kini mempertimbangkan penggunaan moda transportasi baru berupa Skytrain bermesin sebagai solusi pendukung sistem transportasi massal perkotaan. Teknologi ini sedang dalam tahap evaluasi sebagai alternatif yang lebih efisien dibandingkan moda konvensional, terutama dalam memperkuat konektivitas antarwilayah perkotaan. Dalam kajian yang dilakukan, Skytrain bukan sekadar wahana wisata seperti yang biasa ditemui di tempat rekreasi, melainkan sistem transportasi umum yang bergerak dengan mesin sendiri, mirip kereta api modern.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah rute Mekarsari menuju Cileungsi, sebagai bagian dari strategi integrasi jaringan transportasi. Dalam skema yang dikaji, kereta gantung ini direncanakan beroperasi dengan interval waktu antarangkutan (headway) sekitar lima hingga tujuh menit. Setiap rangkaian mampu mengangkut hingga 200 penumpang, menjadikannya pilihan yang kompetitif dalam menangani arus penumpang harian. Kajian juga menunjukkan bahwa biaya pembangunan hanya sekitar Rp320 miliar per kilometer, mencakup sarana, prasarana, dan sistem pendukung.

Di sisi operasional, studi menunjukkan biaya tahunan untuk layanan dengan headway tujuh menit diperkirakan hanya Rp32 miliar. Angka ini menjadi salah satu pertimbangan utama, mengingat efisiensi biaya menjadi kunci dalam pengembangan transportasi berkelanjutan. Proyek tersebut diperkirakan dapat selesai dalam waktu sekitar satu tahun sejak dimulai, namun tetap dalam tahap kajian dan belum menentukan kebijakan final.

Kemenhub menegaskan bahwa semua teknologi yang dikaji harus memenuhi standar keselamatan dan teknis yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA). Teknologi Skytrain yang dipelajari bukanlah inovasi baru, melainkan sistem yang telah terbukti beroperasi di lima negara. Keberhasilan operasional di luar negeri menjadi dasar pertimbangan dalam menilai potensi penerapannya di Indonesia, terutama dalam konteks efisiensi, keandalan, dan keberlanjutan jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya