Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prancis Diambang Krisis Fiskal, Pakar Ekonomi Soroti Kebijakan Tak Berkelanjutan

Ekonom Nobel Paul Krugman memperingatkan Prancis menghadapi ancaman krisis utang akibat defisit fiskal besar dan struktur pensiun yang tidak adaptif, sementara mantan pemimpin ECB menekankan pentingnya komitmen politik untuk menstabilkan ekonomi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Prancis Diambang Krisis Fiskal, Pakar Ekonomi Soroti Kebijakan Tak Berkelanjutan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Prancis kini berada di ambang krisis utang yang mengancam stabilitas ekonomi zona euro, menurut analisis ekonom peraih Nobel Paul Krugman. Dalam tulisan terbarunya di platform Substack, ia menegaskan bahwa jalur fiskal negara tersebut tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002, menandakan menurunnya kepercayaan pasar terhadap kredibilitas keuangan Prancis. Krisis ini diperparah oleh defisit anggaran yang besar dan rasio utang terhadap PDB yang terus meningkat.

Krugman menyoroti akar masalah utama: ketidakmampuan Prancis mereformasi sistem pensiun yang masih menguntungkan kelompok usia muda di tengah populasi yang menua. Tanpa perubahan struktural, beban fiskal akan terus membebani anggaran negara. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan Prancis pada euro membuat negara ini rentan terhadap gejolak pasar. Jika kepercayaan investor runtuh, maka bisa terjadi gelombang pelarian modal yang mempercepat kenaikan suku bunga, membentuk lingkaran setan yang sulit dihentikan.

Krisis yang kini menghantui Prancis tidak lepas dari konteks politik dan ekonomi domestik. Pemerintah, dipimpin Perdana Menteri Sébastien Lecornu, tengah berupaya mengesahkan anggaran tahun 2027 yang menekankan konsolidasi fiskal besar. Namun, upaya ini dihadapkan pada perlawanan dari kelompok mahasiswa yang memprotes minimnya anggaran pendidikan, yang memicu demonstrasi massal di berbagai kota. Ketegangan politik ini memperkuat keraguan pasar terhadap kemampuan pemerintah untuk menjaga konsistensi kebijakan.

Mantan Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet menekankan bahwa solusi masih tersedia, tetapi kuncinya ada di tangan pemerintah dan parlemen Prancis. Ia menegaskan bahwa intervensi ECB, seperti mekanisme ESM atau instrumen perlindungan transmisi (TPI), hanya bisa diaktifkan jika negara tersebut telah menunjukkan komitmen kuat untuk memperbaiki defisit fiskal. Trichet menekankan pentingnya tindakan preventif dan kredibilitas politik dalam menenangkan pasar. Ia menegaskan bahwa negara tidak bisa mengandalkan bantuan luar jika belum membuktikan kemampuan menyejahterakan dirinya sendiri.

Kondisi saat ini menjadi ujian bagi keberlanjutan ekonomi Eropa. Jika Prancis gagal mengatasi tantangan fiskal, maka bisa terjadi fragmentasi pasar keuangan yang mengancam kesatuan zona euro. Dengan begitu, peringatan Krugman dan seruan Trichet menjadi bentuk kewaspadaan kolektif terhadap risiko yang mungkin muncul jika kebijakan ekonomi tidak dijalankan secara bijak dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya