Prancis Tengah Krisis Kebijakan Akibat Kekacauan Sosial Berkepanjangan
Gelombang protes yang melanda Prancis sejak September menyebabkan krisis politik, ekonomi, dan sosial, dengan 85 persen warga menyatakan negara dalam kemunduran dan 98 persen tidak puas dengan kondisi saat ini.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 21.04 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 50x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kerusuhan yang berlangsung berbulan-bulan di Prancis telah menunjukkan kegagalan koordinasi antara pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat, tanpa adanya tokoh atau organisasi dominan yang memimpin aksi. Aksi demonstrasi yang awalnya dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup kini meluas mencakup siswa, guru, orang tua, buruh, petani, hingga pensiunan, menandai perluasan gerakan sosial yang mendalam. Kondisi ini menambah beban bagi Presiden Emmanuel Macron, yang kini dihadapkan pada tekanan politik dan krisis kepercayaan publik yang semakin memburuk.
Perdana Menteri Sebastian Lecornu menggambarkan situasi saat ini sebagai masa kelelahan nasional, menyoroti tumpukan krisis yang berkelanjutan—mulai dari perang global, inflasi tinggi, hingga penurunan daya beli masyarakat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa 85 persen responden survei Ipsos-BVA menyatakan Prancis sedang mengalami kemunduran, sementara 98 persen menyatakan tidak puas dengan kondisi negara saat ini. Ketidakpuasan ini tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga terukur dalam data ekonomi dan kebijakan.
Ekonomi Prancis mengalami stagnasi, didorong oleh panas ekstrem yang merusak panen dan kenaikan harga energi global. Sektor pariwisata, yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi, kini terancam karena persepsi negatif dari kekerasan yang tersebar di media internasional. Investasi turun 1 persen pada semester pertama tahun ini, sementara beban utang pemerintah mencapai 119 persen terhadap PDB—dua kali lipat dari target Uni Eropa. Tahun depan, Prancis harus menerbitkan obligasi senilai €340 miliar, jumlah tertinggi dalam sejarah, menambah tekanan pada pasar keuangan.
Fragmentasi politik memperparah krisis, setelah pemilu sela 2024 menghasilkan parlemen yang tidak stabil. Koalisi sayap kiri New Popular Front menjadi pemenang perolehan kursi, disusul aliansi pendukung Macron dan partai sayap kanan National Rally. Kekacauan ini memicu pergantian perdana menteri berulang dan menghambat pengambilan keputusan. Berbagai tokoh politik, termasuk Jean-Luc Mélenchon, Marine Le Pen, dan Jordan Bardella, saling menyalahkan dan memanfaatkan krisis untuk memperkuat posisi politik mereka, dengan menyerukan penanganan tegas terhadap kelompok seperti Black Bloc dan Antifa.
Macron sendiri dalam pidato nasional mengecam kekerasan tetapi gagal menyajikan solusi konkret, memilih untuk menghindar dari tanggung jawab langsung sambil melakukan kunjungan diplomatik ke negara Teluk. Sementara itu, para analis menekankan bahwa ketidakstabilan politik dan ekonomi yang berkepanjangan akan mempersempit ruang gerak pemerintahan berikutnya, bahkan jika mampu membentuk koalisi. Krisis ini bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga kepercayaan publik yang telah runtuh.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Pemerintah membangun 66 unit hunian tetap di dua lokasi di Lhokseumawe untuk memulihkan tempat tinggal warga terdampak bencana hidrometeorologi pada November 2025.
24 Oktober 2026

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,8 persen, namun sekitar 11.000 desa dan dusun masih belum terjangkau listrik, dengan target pemerintah menyediakan akses listrik untuk semua hingga 2029.
24 Oktober 2026

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Pemerintah siap menghadapi dampak La Nina melalui kesiapan infrastruktur dan kolaborasi nasional untuk menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan.
24 Oktober 2026

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam meraih penghargaan terbaik dalam kategori Tata Kelola dan Kepatuhan di ajang Penghargaan Energi Subroto 2026.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

