Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Produksi Padi Jateng Capai 6,69 Juta Ton, Target 10,5 Juta Ton Masih Realistis

Produksi padi Jawa Tengah hingga Agustus 2026 mencapai 6,69 juta ton, mendukung optimisme pencapaian target nasional 10,5 juta ton tahun ini.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 17.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Produksi Padi Jateng Capai 6,69 Juta Ton, Target 10,5 Juta Ton Masih Realistis
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kinerja produksi padi Jawa Tengah hingga bulan Agustus 2026 mencatat angka 6,69 juta ton, setara 63 persen dari target tahunan sebesar 10,5 juta ton. Angka ini menjadi dasar optimisme Gubernur Ahmad Luthfi dalam menilai kemungkinan tercapainya target nasional, seiring berlangsungnya panen raya kedua yang hampir memasuki puncak. Kegiatan panen di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang menjadi salah satu representasi realisasi produktivitas yang terus meningkat.

Upaya mendukung produktivitas petani terus dilakukan melalui penyaluran alat pertanian modern, seperti traktor, combine harvester, pompa air, serta bantuan benih secara merata di berbagai kabupaten. Bantuan ini tidak hanya diberikan di Pemalang, tetapi juga menjangkau wilayah lain yang memiliki potensi produksi tinggi. Dengan distribusi alat yang lebih merata, diharapkan efisiensi proses panen dapat ditingkatkan, terutama di daerah yang sebelumnya bergantung pada mesin dari luar wilayah.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menekankan pentingnya pendekatan berbasis kearifan lokal dan kondisi iklim. Di wilayah Pantura seperti Kedungbanjar, petani telah menerapkan dua kali panen per tahun dengan sistem rotasi tanam. Di beberapa daerah lain, bahkan terjadi tiga kali musim tanam, tergantung ketersediaan air. Dengan penerapan sistem pertanian modern seperti PMAS, produktivitas dapat ditingkatkan meski hanya dua kali tanam.

Untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas intervensi, Pemprov Jateng menerapkan program Pilar Jateng, yang mengintegrasikan pemetaan infrastruktur lahan, jaringan irigasi, serta kondisi alat mesin pertanian. Data yang terkumpul digunakan sebagai acuan dalam merancang bantuan dan kebijakan peningkatan produksi secara tepat sasaran. Dengan sistem ini, perencanaan pembangunan pertanian bisa lebih akurat dan responsif terhadap kebutuhan lapangan.

Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Petarukan, menyampaikan apresiasi terhadap bantuan combine harvester. Sebelumnya, petani harus mengontrak mesin dari luar daerah, yang sering menunda panen dan memengaruhi harga gabah. Kini, dengan mesin yang tersedia secara lokal, proses panen menjadi lebih cepat dan terhindar dari kerugian akibat keterlambatan. Bantuan ini dianggap menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Jateng.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya