Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rahang Tuna, Lezat dari Hasil Laut Sorong

Rahang tuna bakar menjadi ikon kuliner Sorong, menawarkan rasa gurih dan tekstur lembut yang memikat wisatawan dan warga setempat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 12.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rahang Tuna, Lezat dari Hasil Laut Sorong📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di kota Sorong, Papua, kuliner berbahan hasil laut tak hanya menjadi kebutuhan harian, tetapi juga identitas budaya yang khas. Salah satu hidangan yang paling dikenal adalah rahang tuna, bagian tubuh ikan yang awalnya dianggap tidak layak konsumsi, kini menjadi primadona bagi penikmat makanan lokal. Dengan proses pemanggangan yang matang, bagian ini menghasilkan aroma asap khas dan tekstur daging yang lembut, menimbulkan pengalaman makan yang berbeda dari olahan ikan biasa.

Daging rahang tuna terletak di sekitar tulang kepala, memiliki ketebalan yang cukup dan rasa yang kaya, terutama setelah dibumbui dan dipanggang secara merata. Aroma gurih yang menyatu dengan asap kayu membuat setiap gigitan terasa dalam dan menggugah selera. Tak hanya nikmat secara rasa, proses menyantapnya juga memberi kesan lebih personal, karena konsumen harus merogoh daging dari sekitar tulang, menciptakan interaksi langsung dengan makanan.

Sambal pedas menjadi pelengkap sempurna yang menyeimbangkan rasa gurih tuna. Kombinasi ini menjadi daya tarik utama, membuat pengunjung sulit berhenti menyantapnya. Di Sorong, keberadaan tuna sebagai komoditas perikanan utama memungkinkan masyarakat mengolah berbagai bagian ikan secara kreatif. Rahang tuna tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkaya keragaman kuliner lokal.

Kehadiran hidangan ini menunjukkan bagaimana potensi laut yang melimpah dikelola secara bijak untuk menciptakan nilai ekonomi dan budaya. Bagi wisatawan, mencicipi rahang tuna bukan sekadar memenuhi selera, tetapi juga menjelajahi identitas kuliner khas wilayah yang dikelilingi laut. Hidangan sederhana ini menjadi simbol kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara optimal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya