Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ratusan Santri Keracunan Akibat MBG Basi di Sidoarjo

Kebijakan distribusi MBG yang tidak sesuai SOP menyebabkan ratusan santri keracunan, dengan 512 korban, 80 di antaranya dirawat, akibat makanan yang terlambat dibagikan dan basi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 11.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ratusan Santri Keracunan Akibat MBG Basi di Sidoarjo
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Puluhan santri di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) yang diduga telah basi. Penyebab utama kejadian ini diketahui berasal dari pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam pendistribusian makanan, khususnya terkait waktu antara proses memasak dan pemberian kepada peserta. Menurut Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional, makanan seharusnya segera didistribusikan dalam waktu empat jam setelah matang, namun di lapangan waktu tersebut dilanggar hingga melebihi batas.

Ketidakdisiplinan dalam pengelolaan waktu menjadi faktor utama berkembangnya bakteri pada makanan yang tidak mengandung pengawet. Kondisi ini diperparah karena adanya keterlambatan dalam penyerahan makanan dari dapur ke lokasi penyajian, sehingga makanan mengalami penumpukan waktu dan kehilangan kualitas. Kebijakan pengawasan harian dua kali sehari—pada pukul 17.00 WIB saat bahan tiba dan pukul 02.00 WIB saat proses memasak—dilakukan sebagai upaya pencegahan, namun banyak pelaksana di lapangan tidak menjalankannya secara konsisten.

Sebanyak 512 santri dilaporkan mengalami gejala keracunan, dengan 80 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, 312 santri lainnya telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan. Badan Gizi Nasional telah melakukan investigasi bersama dinas kesehatan setempat untuk memastikan akar permasalahan. Selain itu, pihak terkait, termasuk Satuan Pengelola Pemenuhan Gizi (SPPG) Sidoarjo, Talang Angin, telah diberikan sanksi berat berupa suspensi selama 30 hari sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kelalaian tersebut.

Kegagalan dalam pelaksanaan SOP bukan hanya berdampak pada kesehatan peserta, tetapi juga menunjukkan celah dalam pengawasan sistemik yang harus segera diperbaiki. Upaya pencegahan lebih lanjut ditekankan melalui peningkatan kedisiplinan, pemantauan ketat, serta pelatihan ulang bagi petugas yang terlibat dalam distribusi MBG. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa program bantuan pangan bergizi tetap aman, terjangkau, dan berdampak positif bagi kesehatan anak-anak di seluruh wilayah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya