Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Referendum Alberta: Mayoritas Warga Pilih Tetap Jadi Bagian Kanada

Hasil referendum di Alberta menunjukkan dominasi dukungan terhadap tetap menjadi bagian Kanada, meski sejumlah kelompok terus memperjuangkan kemerdekaan secara politik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 09.09 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 47x dibuka
Referendum Alberta: Mayoritas Warga Pilih Tetap Jadi Bagian Kanada📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemungutan suara non-binding yang digelar di Provinsi Alberta mengungkapkan preferensi mayoritas warga untuk tetap menjadi bagian dari Kanada. Meskipun tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, referendum ini menjadi wadah ekspresi kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah federal, khususnya soal distribusi pendapatan dari sumber daya alam. Hasilnya menunjukkan dominasi suara yang menolak proses pemisahan diri, meski tetap menjadi refleksi ketegangan historis antara wilayah kaya minyak dan pusat pemerintahan di Ottawa.

Sejumlah analis menyatakan bahwa pergerakan kemerdekaan Alberta secara praktis tidak mungkin terwujud, mengingat hanya sekitar sepertiga warga yang mendukung pemisahan. Namun, survei yang dilakukan oleh Viewpoint Alberta menunjukkan bahwa dua pertiga dari pendukung referendum sebenarnya tidak menuntut kemerdekaan, melainkan ingin menyampaikan desakan politik agar kepentingan Alberta lebih diakui dalam kebijakan nasional.

Cory Morgan, pendiri organisasi Pathway to Independence yang telah memperjuangkan kemerdekaan selama lebih dari dua dekade, menyatakan tetap akan melanjutkan perjuangan meski hasil referendum menunjukkan penolakan terhadap pemisahan. Ia menekankan bahwa gerakan ini bukan semata soal kemerdekaan, melainkan upaya mendesak perubahan struktural dalam hubungan antara provinsi dan federal.

Profesor Ilmu Politik Universitas Alberta, Jared Wesley, menjelaskan bahwa banyak pendukung referendum justru memilih tidak memisahkan diri karena merasa putus asa terhadap respons pemerintah pusat. Mereka menganggap referendum sebagai sarana komunikasi politik, bukan langkah nyata menuju kemerdekaan. Istilah "separatis yang enggan" digunakan untuk menggambarkan kelompok warga yang ingin perubahan tanpa harus memilih pemisahan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya