Reformasi Birokrasi dan Kontrak Sosial untuk Pakistan
Akademisi Pakistan menyerukan kontrak sosial baru untuk atasi krisis politik, ekonomi, dan kelembagaan melalui desentralisasi, akuntabilitas, dan dialog.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pakistan kini menghadapi tekanan berlapis antara krisis sosio-ekonomi, ketidakstabilan politik, dan kegagalan sistem kelembagaan. Eks perdana menteri Imran Khan tetap berada di penjara, sementara banyak partai politik mempertanyakan legitimasi hasil pemilu terakhir. Dalam konteks ini, muncul tuntutan mendesak untuk mereformasi struktur pemerintahan secara menyeluruh, bukan hanya secara teknis tetapi juga secara filosofi keberlanjutan negara.
Seorang akademisi terkemuka, Naseeb Ullah Achakzai, mengusulkan pembentukan kontrak sosial baru yang menjadi dasar tata kelola negara. Ia menekankan bahwa seluruh tahanan politik harus dibebaskan dan pemerintahan baru dibentuk tanpa dana pembangunan diskresioner. Dalam konsep ini, pemerintah diberi otoritas untuk menjalankan kebijakan luar negeri, dalam negeri, dan ekonomi secara konsisten selama minimal sepuluh tahun, tanpa intervensi politik jangka pendek.
Achakzai menyoroti pentingnya pembatasan wewenang pejabat publik. Menteri dan anggota parlemen tidak boleh memiliki kendali atas anggaran pembangunan atau proses rekrutmen jabatan. Tugas mereka hanya terbatas pada penyusunan kebijakan dan penjelasan kebijakan tersebut kepada publik. Ia juga menekankan perlunya penyerahan kekuasaan (devolution) ke tingkat lokal sebagai fondasi demokrasi yang sejati, di mana pemerintah daerah menjadi lokomotif pembangunan dengan pengawasan ketat oleh lembaga ahli dan badan akuntabilitas.
Birokrasi yang lambat dan korup menjadi fokus kritik. Proses administrasi yang memakan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan dokumen sederhana menjadi norma yang merusak efisiensi. Ia menyoroti bahaya sistem rekrutmen dan pengelolaan anggaran dari BPS-1 hingga BPS-16 yang justru menghancurkan prinsip meritokrasi dan mempertahankan struktur birokrasi yang tidak berfungsi. Selain itu, ia menyerukan revisi pasal 248 konstitusi yang memberikan imunitas eksekutif, yang menurutnya merupakan warisan kolonial yang bertentangan dengan prinsip akuntabilitas dan hak asasi manusia.
Di ranah sosial, Achakzai menekankan pentingnya menghentikan praktik profiling terhadap etnis Pashtun dan menjamin kesetaraan kewarganegaraan. Penyelesaian sengketa distribusi kekayaan alam, terutama bagi Provinsi Balochistan, harus dilakukan melalui mekanisme resmi seperti Formulir Komisi Keuangan Nasional (NFC) dan penerapan pasal 172(3) serta 158 konstitusi. Mengenai konflik di Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan, ia menegaskan bahwa solusi militer tidak efektif. Satu-satunya jalan keluar adalah dialog politik yang bermakna, bukan kekuatan paksa, sebagai bentuk penyelesaian krisis yang berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
Macklemore Dikeluarkan dari Tur Ed Sheeran Usai Sampaikan Dukungan untuk Palestina
Penyanyi Macklemore dikeluarkan dari tur Ed Sheeran setelah menyampaikan dukungan untuk Palestina di panggung konser, akibat tekanan dari pemilik stadion dan pihak terkait.
17 September 2026

Musikus Mundur dari Tur Ed Sheeran Dukung Macklemore
Sejumlah musisi hentikan keterlibatan dalam tur Ed Sheeran sebagai bentuk solidaritas terhadap Macklemore yang didepak gegara tindakan dukung Palestina.
16 September 2026

The Weeknd Siap Tampil di Jakarta, 26-27 September 2026
Konser tunggal pertama The Weeknd di Jakarta digelar di Stadion Internasional Jakarta pada 26 dan 27 September 2026 dengan setlist yang diprediksi mencakup sekitar 38 lagu ikonik dari berbagai era kariernya.
13 September 2026

Pezeshkian Tegaskan Ketahanan Iran Hadapi Tekanan AS-Israel
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tekad negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan AS dan Israel dalam pidato di New Delhi, sementara India soroti risiko keamanan maritim dan ketergantungan energi akibat krisis di Selat Hormuz.
12 September 2026
Berita Lainnya

SSB UHO Latihan Berdasarkan Kelompok Umur
Kamis, 17 September 2026, 17.19 WITA

Tangki Kosong, Risiko Serius bagi Sistem Kendaraan
Kamis, 17 September 2026, 15.44 WITA

Gemini Bantu Ingat Lokasi Barang Lewat Fitur Baru
Kamis, 17 September 2026, 15.37 WITA

Komdigi Tegur 25 Platform Tak Daftar PSE, Termasuk Whoosh dan Susi Air
Kamis, 17 September 2026, 15.36 WITA

The Fed Naikkan Suku Bunga, Thaci Divonis 25 Tahun
Kamis, 17 September 2026, 15.36 WITA

Prabowo Ungkap Koruptor di Balik Aksi Ricuh
Kamis, 17 September 2026, 15.35 WITA

PSEL Bogor Raya 1 Resmi Diluncurkan, Tampung 500 Ribu Ton Sampah Tahunan
Kamis, 17 September 2026, 15.35 WITA

PPN Kejawanan Dibangun Jadi Pusat Perikanan Berkelas Internasional
Kamis, 17 September 2026, 15.35 WITA


