Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.764 per Dolar AS di Awal Perdagangan

Rupiah turun 0,38 persen menjadi Rp17.764 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi, dipengaruhi kenaikan suku bunga The Fed dan ekspektasi kenaikan lebih lanjut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 11.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.764 per Dolar AS di Awal Perdagangan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke posisi Rp17.764 per dolar AS pada awal perdagangan Kamis (17/9), turun 68 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan tekanan terhadap mata uang domestik yang berlangsung di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Beberapa mata uang regional, seperti yuan China, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan, mengalami depresiasi, masing-masing sebesar 0,04 persen, 0,14 persen, 0,57 persen, dan 0,46 persen.

Di sisi lain, dolar Singapura dan yen Jepang menunjukkan penguatan, masing-masing 0,05 persen dan 0,09 persen, sementara dolar Hong Kong stabil. Di pasar global, mata uang utama negara maju juga bergerak bervariasi, dengan euro Eropa dan poundsterling Inggris melemah 0,03 persen serta 0,05 persen, sedangkan dolar Kanada turun 0,04 persen. Sebaliknya, dolar Australia menguat 0,11 persen dan franc Swiss naik 0,01 persen terhadap dolar AS.

Analis dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai melemahnya rupiah dipicu oleh kebijakan moneter The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ia juga menyebut pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Warsh, yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut pada akhir tahun. Penguatan indeks dolar AS akibat kebijakan tersebut turut mempercepat pelemahan rupiah.

Dengan kondisi tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini berada dalam kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan volatilitas yang masih tinggi, terutama dalam konteks dinamika kebijakan moneter global dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya