Relaksasi DHE Tambang Mulai 1 September, Fokus Dorong Ekspor dan Investasi
Penerapan relaksasi aturan Devisa Hasil Ekspor untuk sektor pertambangan resmi berlaku mulai 1 September 2026, dengan tujuan meningkatkan ekspor dan menarik investasi secara bertahap.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 22.10 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 17x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kebijakan relaksasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) khusus bagi sektor pertambangan secara resmi diberlakukan mulai Selasa, 1 September 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung percepatan hilirisasi sumber daya alam dan memperkuat daya saing industri dalam negeri di pasar global. Penerapan aturan baru ini disambut dengan sosialisasi menyeluruh yang telah dilakukan sebelumnya kepada pelaku usaha domestik maupun internasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa tujuan utama dari kebijakan ini adalah memperbesar kontribusi ekspor dan mendorong peningkatan nilai devisa dari sektor pertambangan. Ia menyampaikan bahwa perubahan aturan diharapkan dapat mendorong aliran devisa masuk ke dalam negeri secara lebih efektif, sekaligus memperkuat stabilitas makroekonomi dan mendukung pendalaman pasar keuangan domestik.
Meski belum menetapkan target nilai pasti, pemerintah menyatakan akan melakukan pemantauan berkala terhadap dampak kebijakan pasca-penerapan. Keberhasilan implementasi akan dinilai berdasarkan data realisasi ekspor dan tingkat investasi yang masuk ke sektor pertambangan. Pemerintah juga menyebut bahwa negara-negara yang akan mendapatkan fasilitas relaksasi ditentukan berdasarkan perjanjian kerja sama dan adanya komitmen investasi nyata di bidang tersebut.
Peningkatan jumlah negara yang mendapatkan pengecualian DHE masih terbuka, asalkan hasil evaluasi dan koordinasi dengan mitra strategis menunjukkan keberlanjutan. Kebijakan ini merupakan pelaksanaan dari amanat Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, yang menekankan bahwa kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat secara luas. Dengan demikian, relaksasi DHE diharapkan mampu menciptakan sinergi antara ekspor, investasi, dan pengembangan industri dalam negeri.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Uji Lapangan HD785-7 Hybrid EREV Dimulai di Pertambangan Indonesia
Uji lapangan alat berat hybrid EREV Komatsu dilakukan di lokasi pertambangan milik anak usaha United Tractors untuk mengukur efisiensi dan kinerja teknologi elektrifikasi.
24 Oktober 2026

Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis
Investasi terkoordinasi dan rantai pasok yang kuat menjadi kunci utama untuk mengeksploitasi nilai tambah tinggi dari mineral kritis di Indonesia.
24 Oktober 2026

Antam Siap Kelola Tambang Emas Baru di Papua
Pemerintah menutup operasional tambang emas PT Kristalin Eka Lestari di Nabire dan menyerahkan kawasan seluas 275,36 hektare kepada PT Aneka Tambang Tbk untuk pengelolaan berkelanjutan.
24 Oktober 2026

ANTAM Perkuat Fondasi Bisnis untuk Nilai Tambah Jangka Panjang
Perusahaan tambang nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan di semester pertama 2026, dengan pendapatan Rp62,71 triliun dan laba naik 34%, seiring fokus pada hilirisasi dan optimalisasi operasional.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

