Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Robot China Raih Rekor Lari Lebih Cepat dari Bolt, Tapi Masih Gagal Colok Kabel

Dalam ajang kompetisi robot humanoid di Beijing, sejumlah perangkat asal China mencatatkan waktu lari 100 meter lebih cepat dari Usain Bolt, namun masih mengalami kegagalan dalam tugas sederhana seperti menyambungkan kabel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 04.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Robot China Raih Rekor Lari Lebih Cepat dari Bolt, Tapi Masih Gagal Colok Kabel
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam ajang World Humanoid Robot Games di Beijing, dua robot humanoid asal Tiongkok berhasil menyelesaikan lari 100 meter dengan catatan waktu di bawah rekor dunia manusia, yakni 9,58 detik, yang menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi robotika. Performa ini jauh melampaui hasil tahun sebelumnya, ketika robot tercepat masih membutuhkan lebih dari 20 detik untuk menyelesaikan jarak yang sama, menunjukkan percepatan signifikan dalam kemampuan gerak dinamis dan kontrol otomatis.

Di sisi lain, meskipun robot mampu mencapai kecepatan luar biasa, mereka mengalami kesulitan mendasar dalam tugas harian yang membutuhkan presisi tinggi. Salah satu tantangan krusial adalah menyambungkan kabel, sebuah aktivitas yang tampak sederhana namun menuntut koordinasi visual-mekanis yang akurat. Banyak robot menabrak matras setelah garis finish karena tidak mampu menghentikan gerakan dengan tepat, menunjukkan ketidakseimbangan dalam pengelolaan dinamika gerak dan kontrol baterai.

Kompetisi ini melibatkan 51 cabang, termasuk 30 lomba olahraga dan 21 simulasi tugas di lingkungan nyata seperti pabrik, restoran, dan penanganan darurat. Lebih dari 40 persen dari total lomba mensyaratkan operasi sepenuhnya otonom, tanpa intervensi manusia. Hal ini menekankan pentingnya kemampuan robot dalam menghadapi ketidakpastian dunia nyata, seperti objek yang bergeser, posisi tidak sempurna, atau kesalahan pengukuran kecil yang bisa memicu kegagalan sistem.

Para pelaku industri menilai bahwa nilai sejati dari robot bukan terletak pada kecepatan lari atau performa demo, melainkan pada kemampuannya menyelesaikan masalah kompleks dalam konteks aplikasi nyata. Menurut CEO Lumos Robotics, efisiensi hanya muncul ketika robot bisa bekerja mandiri dalam situasi yang tidak terprediksi. Tantangan terbesar, menurut para pengembang, adalah memastikan robot bisa beradaptasi dan memperbaiki diri secara otomatis tanpa bantuan manusia setelah produk dipasarkan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya