Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rugi WSBP Membengkak Jadi Rp410 Miliar di Tengah Penurunan Pendapatan

WSBP mencatat kerugian bersih Rp410,77 miliar hingga September 2026, didorong penurunan pendapatan dan kenaikan beban keuangan, sementara efisiensi belum mampu menutup defisit.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 23.12 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 98x dibuka
Rugi WSBP Membengkak Jadi Rp410 Miliar di Tengah Penurunan Pendapatan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kinerja keuangan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) pada semester pertama tahun 2026 menunjukkan tren negatif yang memburuk. Rugi bersih perusahaan mencapai Rp410,77 miliar hingga akhir September, naik signifikan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp324,22 miliar. Kenaikan ini terjadi meski manajemen berhasil menekan beban operasional, termasuk pengurangan beban umum dan administrasi sebesar 13,05% serta beban penjualan 9,79%. Namun, upaya efisiensi tersebut tidak cukup mengimbangi penurunan pendapatan dan margin laba kotor yang anjlok.

Pendapatan usaha WSBP turun 7,75% dari Rp1,17 triliun menjadi Rp1,08 triliun secara tahunan. Penurunan ini berasal dari dua lini utama: pendapatan precast turun 20,76% menjadi Rp418,92 miliar, sementara pendapatan readymix dan quarry merosot 24,92% menjadi Rp269,52 miliar. Meski pendapatan jasa konstruksi melonjak 38,73% menjadi Rp389,16 miliar, margin kotor hanya sekitar 3% karena beban konstruksi mencapai Rp377,38 miliar. Kinerja ini membuat laba kotor turun 35,57% menjadi Rp129,83 miliar, dengan margin turun dari 17,25% menjadi 12,05%.

Perubahan struktur pendapatan juga terjadi, di mana kontribusi dari pihak ketiga naik signifikan menjadi 47,89% dari total pendapatan, naik dari 28,76% tahun lalu. Pendapatan dari WSKT-FYP KSO menjadi kontributor terbesar dengan Rp211,03 miliar, disusul Politeknik Negeri Madura dan Universitas Udayana masing-masing Rp55,32 miliar dan Rp45,63 miliar. Di sisi lain, pendapatan dari induk usaha WSKT turun 40,95%, dari Rp373,55 miliar menjadi Rp220,59 miliar, dan total pendapatan dari pihak berelasi menyusut dari Rp832,22 miliar menjadi Rp561,53 miliar.

Beberapa pos keuangan lainnya juga menunjukkan tekanan berat. Pendapatan lain-lain bersih anjlok 81,2% menjadi Rp11,23 miliar, terutama karena tidak adanya pemulihan nilai piutang yang dicatat tahun lalu sebesar Rp65,55 miliar. Beban keuangan naik 8,46% menjadi Rp234,23 miliar, dengan beban bunga bank hampir dua kali lipat dari Rp53,72 miliar menjadi Rp97,59 miliar. Total liabilitas mencapai Rp5,25 triliun, meningkat 4,47% dari akhir 2025, sementara aset turun 5,8% menjadi Rp2,88 triliun. Defisit modal terus membesar dari minus Rp1,97 triliun menjadi minus Rp2,37 triliun, dengan akumulasi defisit mencapai Rp10,4 triliun.

Manajemen WSBP menyatakan kondisi ini mencerminkan ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan atas kelangsungan usaha. Penyebab utamanya adalah sejumlah proyek bermasalah yang didanai melalui utang, sehingga perusahaan perlu melakukan restrukturisasi pinjaman dan memasuki masa standstill serta pengaturan arus kas (cash waterfall). Target pendapatan tahunan Rp2,08 triliun belum tercapai secara signifikan, dengan realisasi hingga kuartal III baru mencapai 51,81%. Strategi perbaikan kinerja yang disiapkan meliputi peningkatan partisipasi dalam tender, penjualan aset tidak produktif, pemangkasan beban di bawah RKAP, serta implementasi perjanjian perdamaian.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya