Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Runtuhnya Gletser Picu Banjir Bandang Nepal, 165 Tewas

Bencana banjir bandang di Nepal yang menewaskan 165 orang dipicu runtuhnya bagian bawah gletser, disertai longsor es dan batuan, diduga akibat pencairan cepat akibat pemanasan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 15.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Runtuhnya Gletser Picu Banjir Bandang Nepal, 165 Tewas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peristiwa bencana alam yang menimpa wilayah pegunungan Nepal pada Rabu (26/8) dikaitkan dengan runtuhnya sebagian besar ujung gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter. Gletser tersebut jatuh ke dasar lembah dengan ketinggian 1.200 meter di bawahnya, menghantam permukaan tanah dan memicu gelombang longsor es, batuan, dan sedimen yang melanda daerah sekitarnya. Hasil analisis citra satelit menunjukkan perubahan drastis pada lereng gunung, yang sebelumnya hijau kini tertutup material kecoklatan akibat endapan puing-puing.

Ahli geologi teknik dari Universitas Sikkim, Vikram Gupta, menyatakan bahwa sebagian besar ujung gletser telah runtuh dan membawa serta material besar, termasuk batuan dan sedimen. Ia menegaskan bahwa kejadian ini tidak hanya disebabkan oleh aktivitas geologis alami, tetapi juga berpotensi terkait dengan perubahan iklim yang mempercepat pencairan es. Citra satelit juga mengindikasikan terjadinya pencairan salju dalam jumlah besar dalam rentang 24 jam sebelum bencana, yang menunjukkan suhu yang meningkat secara signifikan.

Pengamat ilmu bumi Dan Shugar menyoroti bahwa sebagian besar gletser di lembah tersebut sebelumnya masih tertutup salju, namun dalam waktu singkat berubah menjadi es terbuka. Ia menyatakan bahwa meski data stasiun cuaca belum tersedia, kemungkinan besar suhu telah melonjak. PBB sebelumnya mencatat bahwa Nepal telah kehilangan hampir sepertiga cadangan es dalam 30 tahun terakhir akibat pemanasan global, dengan laju pencairan meningkat 65 persen dalam dekade terakhir dibandingkan dekade sebelumnya.

Bencana ini terjadi di Sungai Lhende, yang berada di Distrik Rasuwa—wilayah dengan sekitar 50.000 penduduk—dan dipicu longsoran es dan batuan dari kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok. Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berada di area yang terdampak paling parah. Otoritas Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal mengonfirmasi bahwa gelombang arus air deras membawa sedimen dan batu besar melalui sistem sungai Bhote Koshi dan Trishuli, dengan ketinggian air di Galchhi melonjak hingga sembilan meter dalam waktu 30 menit.

Organisasi Planet Labs, yang menyediakan citra satelit, menyatakan akan merilis data terbuka untuk mendukung respons darurat. Andrew Zolli, Chief Impact Officer di Planet Labs, menekankan bahwa analisis menunjukkan kejadian ini kemungkinan besar merupakan dampak dari pencairan es yang sangat cepat. Ia menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut akan fokus pada peran faktor iklim dan aktivitas manusia, termasuk pembangunan infrastruktur, sebagai pemicu potensial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya