Rupiah Melemah ke Rp17.530 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah berbalik melemah 0,17% pada penutupan perdagangan Kamis, menutup di level Rp17.530/US$, dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak yang tetap tinggi.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 19.36 WITA·👁 3 orang membaca· 1 hari ini · 9x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada akhir perdagangan hari ini, menutup sesi di posisi Rp17.530 per dolar AS, turun 0,17% dari level pembukaan sebelumnya yang berada di Rp17.495. Pergerakan ini berbalik arah dari kenaikan tajam pada sesi sebelumnya, ketika rupiah sempat menguat 0,71% ke level Rp17.500. Meski terkoreksi, mata uang lokal tetap berada di kisaran terkuat dalam 17 pekan terakhir, menunjukkan ketahanan terhadap tekanan pasar global.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia, khususnya minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, yang menyebabkan lonjakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan AS memicu serangan terhadap jalur pelayaran, memperburuk sentimen pasar terhadap risiko energi global.
Kenaikan harga minyak turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang mencapai level tertinggi sejak 2023. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, berdampak pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah. Namun, indeks dolar AS (DXY) justru melemah 0,10% ke posisi 98,721, didorong oleh penguatan yen Jepang yang mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi produsen AS hari ini dan inflasi konsumen pada Jumat, sebagai informasi kunci menjelang rapat kebijakan moneter The Federal Reserve pada 15–16 September. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed sekitar 60%, setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan kinerja lebih kuat dari ekspektasi. Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tetap mampu menyerap dampak kenaikan harga minyak hingga US$100 per barel, tanpa perlu menaikkan subsidi energi, sebagaimana telah direncanakan dalam asumsi defisit APBN 2,85% terhadap PDB.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


