Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.530 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah berbalik melemah 0,17% pada penutupan perdagangan Kamis, menutup di level Rp17.530/US$, dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak yang tetap tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 19.36 WITA·👁 3 orang membaca· 1 hari ini · 9x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.530 per Dolar AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada akhir perdagangan hari ini, menutup sesi di posisi Rp17.530 per dolar AS, turun 0,17% dari level pembukaan sebelumnya yang berada di Rp17.495. Pergerakan ini berbalik arah dari kenaikan tajam pada sesi sebelumnya, ketika rupiah sempat menguat 0,71% ke level Rp17.500. Meski terkoreksi, mata uang lokal tetap berada di kisaran terkuat dalam 17 pekan terakhir, menunjukkan ketahanan terhadap tekanan pasar global.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia, khususnya minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, yang menyebabkan lonjakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan AS memicu serangan terhadap jalur pelayaran, memperburuk sentimen pasar terhadap risiko energi global.

Kenaikan harga minyak turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang mencapai level tertinggi sejak 2023. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, berdampak pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah. Namun, indeks dolar AS (DXY) justru melemah 0,10% ke posisi 98,721, didorong oleh penguatan yen Jepang yang mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi produsen AS hari ini dan inflasi konsumen pada Jumat, sebagai informasi kunci menjelang rapat kebijakan moneter The Federal Reserve pada 15–16 September. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed sekitar 60%, setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan kinerja lebih kuat dari ekspektasi. Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tetap mampu menyerap dampak kenaikan harga minyak hingga US$100 per barel, tanpa perlu menaikkan subsidi energi, sebagaimana telah direncanakan dalam asumsi defisit APBN 2,85% terhadap PDB.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya