Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.585/AS, Tekanan Global Menguat

Rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.585 per dolar AS pada akhir pekan, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 15.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.585/AS, Tekanan Global Menguat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan pelemahan terhadap dolar AS, bergerak di kisaran Rp17.570 hingga Rp17.620 sepanjang hari. Pada penutupan, mata uang nasional berada di posisi Rp17.585 per dolar AS, mengalami depresiasi sebesar 0,31% dari level pembukaan. Meski sempat tertekan hingga menyentuh level terlemah harian, rupiah berhasil menguat 35 poin menjelang akhir sesi, menunjukkan sedikit ketahanan di tengah tekanan pasar global.

Pelemahan rupiah sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 99,096 pada pukul 15.00 WIB, naik 0,05% dari sesi sebelumnya. Kenaikan greenback didorong oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari wilayah Timur Tengah serta kenaikan harga komoditas global. Harga minyak Brent melanjutkan tren kenaikan untuk hari keenam berturut-turut, melonjak 1,2% ke US$108,96 per barel, setelah sebelumnya menembus ambang US$100.

Kenaikan harga energi turut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan FOMC 15–16 September mendatang sebesar 71,3%, meningkat dari 61,2% pada pekan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga tercatat, naik 2,3 basis poin ke 4,965%, yang memperkuat daya tarik aset dolar dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir mencatat penguatan sekitar 0,26%, dibandingkan posisi penutupan pekan lalu di Rp17.630. Namun, kenaikan ini tidak mengurangi tekanan jangka pendek yang berasal dari dinamika pasar global. Perhatian pasar kini beralih ke rilis data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat, sebagai indikator utama yang dapat memengaruhi keputusan moneter The Fed.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya