Rupiah Melemah ke Rp17.585/AS, Tekanan Global Menguat
Rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.585 per dolar AS pada akhir pekan, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 15.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan dengan pelemahan terhadap dolar AS, bergerak di kisaran Rp17.570 hingga Rp17.620 sepanjang hari. Pada penutupan, mata uang nasional berada di posisi Rp17.585 per dolar AS, mengalami depresiasi sebesar 0,31% dari level pembukaan. Meski sempat tertekan hingga menyentuh level terlemah harian, rupiah berhasil menguat 35 poin menjelang akhir sesi, menunjukkan sedikit ketahanan di tengah tekanan pasar global.
Pelemahan rupiah sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 99,096 pada pukul 15.00 WIB, naik 0,05% dari sesi sebelumnya. Kenaikan greenback didorong oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari wilayah Timur Tengah serta kenaikan harga komoditas global. Harga minyak Brent melanjutkan tren kenaikan untuk hari keenam berturut-turut, melonjak 1,2% ke US$108,96 per barel, setelah sebelumnya menembus ambang US$100.
Kenaikan harga energi turut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan FOMC 15–16 September mendatang sebesar 71,3%, meningkat dari 61,2% pada pekan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga tercatat, naik 2,3 basis poin ke 4,965%, yang memperkuat daya tarik aset dolar dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir mencatat penguatan sekitar 0,26%, dibandingkan posisi penutupan pekan lalu di Rp17.630. Namun, kenaikan ini tidak mengurangi tekanan jangka pendek yang berasal dari dinamika pasar global. Perhatian pasar kini beralih ke rilis data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat, sebagai indikator utama yang dapat memengaruhi keputusan moneter The Fed.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Jakarta Diminta Evaluasi Kebutuhan Utang Sebelum Terbitkan Obligasi
Ekonom menekankan kewajiban persetujuan multi-instansi dan risiko gagal bayar sebelum DKI Jakarta menerbitkan obligasi daerah.
12 September 2026

Donasi Rp858 Miliar dari Investor Kripto untuk Partai Populis Inggris
Investor kripto Ben Delo menyerahkan donasi sebesar Rp858,6 miliar kepada Reform UK menjelang pemilu 2029, memecahkan rekor sumbangan politik di Inggris.
12 September 2026
Pria 36 Tahun Raih Rp151 Triliun dari Jualan Robot Otomatis
Seorang pria berusia 36 tahun sukses mengumpulkan kekayaan mencapai Rp151 triliun hanya dari penjualan robot otomatis dalam waktu singkat.
12 September 2026

Belanda Pindahkan Cadangan Emas 94 Ton untuk Kesiapsiagaan Krisis
Bank sentral Belanda memindahkan 94 ton emas dari Amerika Utara ke Inggris demi memperkuat respons cepat dalam kondisi darurat global.
12 September 2026
Berita Lainnya

Batasi Daya Baterai di Bawah 50% Saat Angkut Mobil Listrik via Kapal
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Indonesia Perkuat Nelayan Skala Kecil Melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

Harga BBM Non Subsidi Naik Per 1 September 2026
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Polisi Thailand Bekuk Sindikat Obat Diet Ilegal Senilai Rp26,7 M
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi
Sabtu, 12 September 2026, 22.35 WITA

Sinergi Bulog-TNI Percepat Penyaluran Bantuan Pangan Nasional
Sabtu, 12 September 2026, 22.31 WITA


