Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Presiden AS Pingsan di Jamuan Jepang, Jadi Isu Politik

Kesehatan Presiden AS George H. W. Bush yang menurun saat jamuan kenegaraan di Tokyo pada 1992 berdampak besar pada citra politiknya dan memperkuat keunggulan lawannya, Bill Clinton, dalam pemilu tahun itu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 15.38 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
Presiden AS Pingsan di Jamuan Jepang, Jadi Isu Politik📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 8 Januari 1992, kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat George H. W. Bush ke Jepang berubah menjadi momen tak terduga saat ia tiba-tiba jatuh pingsan dan muntah di tengah jamuan makan malam resmi. Peristiwa tersebut terjadi saat Bush duduk di meja utama bersama Perdana Menteri Jepang Kiichi Miyazawa. Tanpa peringatan, ia kehilangan kesadaran, mengalami muntah yang mengenai tamu utama, dan akhirnya terjatuh dari kursinya.

Keributan langsung mewarnai ruangan yang sebelumnya berlangsung dalam suasana formal. Tim keamanan Secret Service dan perwakilan Jepang segera mengevakuasi Bush, yang sempat tidak sadarkan diri selama beberapa menit. Meski sempat terlihat lemah, ia kemudian sadar, tersenyum, dan mengacungkan jempol kepada para tamu sebagai bentuk penegasan bahwa kondisinya membaik. Setelah itu, ia mengundurkan diri dari acara untuk beristirahat di kamar pribadinya di Istana Akasaka.

Hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa Bush menderita gastroenteritis akut, gangguan pencernaan akut yang menyebabkan mual hebat dan kelemahan tubuh. Penyebab pasti belum diketahui, meski diperkirakan terkait makanan yang dikonsumsi—termasuk sushi—atau kondisi fisik akibat jadwal padat yang dilalui sebelumnya. Keesokan harinya, kondisinya pulih dan ia kembali menjalani agenda resmi tanpa hambatan.

Namun, insiden tersebut tidak hanya menjadi perbincangan dalam lingkaran diplomatik, tetapi juga menyebar luas di media global. Rekaman kejadian itu menjadi bahan lelucon di berbagai acara komedi Amerika dan menggambarkan Bush sebagai pemimpin yang mulai kehilangan vitalitas. Di tengah suasana politik yang memanas menjelang pemilu 1992, perbandingan antara Bush yang terlihat lelah dan lawannya, Bill Clinton, yang tampil muda serta penuh energi, menjadi pembeda besar dalam narasi publik.

Meski tidak menjadi faktor tunggal, momen tersebut menjadi simbol melemahnya citra Bush di mata pemilih. Dalam pemilu November 1992, ia kalah dalam upaya mempertahankan jabatan, dan Clinton berhasil menggantikannya sebagai presiden Amerika Serikat. Insiden di Tokyo, meski bersifat medis, menjadi bagian penting dalam sejarah politik AS yang menunjukkan betapa sensitifnya citra pemimpin terhadap kejadian kecil yang terjadi di panggung internasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya