Rupiah Melemah ke Rp17.650, Tertinggi 15 Minggu
Rupiah menguat signifikan ke level Rp17.650 per dolar AS, mencatat posisi terkuat dalam 15 pekan terakhir, didorong pelemahan dolar global dan sentimen pasar yang menilai ekspektasi kenaikan suku bunga AS mungkin terbatas.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 16.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mencatat penutupan terkuat dalam kurun waktu 15 minggu pada Kamis (3/9/2026), menyentuh level Rp17.650 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah melemah ke posisi Rp17.750 pada penutupan sebelumnya, Rabu (2/9/2026). Pada perdagangan hari ini, rupiah menguat 0,56% dari posisi sebelumnya, dengan pembukaan pagi hari sudah berada di level Rp17.705/US$, lalu terus memperkuat posisi hingga penutupan pasar.
Pelemahan dolar AS tercatat kuat, ditunjukkan oleh indeks dolar (DXY) yang turun 0,34% ke level 99,259 pada pukul 15.00 WIB, lebih dalam dibandingkan penurunan pagi hari yang hanya 0,08% ke posisi 99,502. Penurunan DXY ini didorong oleh penguatan sejumlah mata uang utama dunia, termasuk euro dan yen, yang menciptakan tekanan terhadap greenback di pasar global. Kondisi ini membuka ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.
Namun, penguatan rupiah tetap terbatas oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve pada bulan September. Peluang kenaikan suku bunga diperkirakan mencapai 61%, meningkat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sikap tegas terhadap inflasi. Pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja AS pada Jumat, dengan proyeksi penciptaan 56.000 lapangan kerja baru di Agustus, setelah kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi menguatkan dolar AS dan membatasi penguatan rupiah.
Penguatan rupiah terjadi sehari setelah Destry Damayanti dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Dalam pernyataan pertamanya di Mahkamah Agung, ia menegaskan bahwa Indonesia menghadapi kondisi "higher for longer", di mana inflasi, suku bunga, dan imbal hasil obligasi di negara maju diproyeksikan tetap tinggi dalam waktu lebih lama dari perkiraan. Ia menyatakan bahwa faktor global ini akan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan moneter domestik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif atau barrier yang sudah rusak.
9 September 2026

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Penggunaan dua masker, terutama tipe bedah, dinilai bisa meningkatkan perlindungan dari abu vulkanik meski belum ada bukti ilmiah pasti.
9 September 2026

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Pemilik hewan peliharaan di lima provinsi terdampak harus segera lindungi anabul dari paparan abu vulkanik dengan langkah-langkah praktis dan preventif.
9 September 2026

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Langkah tepat saat terpapar abu vulkanik mencakup menjauh dari sumber, membersihkan tubuh dengan hati-hati, dan segera ke dokter jika gejala memburuk.
9 September 2026
Berita Lainnya

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA

Data Ekonomi India Dikritik, Mantan Pejabat Sebut Manipulasi Sistemik
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Empat Lukisan Renoir Raib dari Museum di Prancis
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Rabu, 9 September 2026, 07.33 WITA


