Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.650, Tertinggi 15 Minggu

Rupiah menguat signifikan ke level Rp17.650 per dolar AS, mencatat posisi terkuat dalam 15 pekan terakhir, didorong pelemahan dolar global dan sentimen pasar yang menilai ekspektasi kenaikan suku bunga AS mungkin terbatas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 16.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.650, Tertinggi 15 Minggu
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mencatat penutupan terkuat dalam kurun waktu 15 minggu pada Kamis (3/9/2026), menyentuh level Rp17.650 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah melemah ke posisi Rp17.750 pada penutupan sebelumnya, Rabu (2/9/2026). Pada perdagangan hari ini, rupiah menguat 0,56% dari posisi sebelumnya, dengan pembukaan pagi hari sudah berada di level Rp17.705/US$, lalu terus memperkuat posisi hingga penutupan pasar.

Pelemahan dolar AS tercatat kuat, ditunjukkan oleh indeks dolar (DXY) yang turun 0,34% ke level 99,259 pada pukul 15.00 WIB, lebih dalam dibandingkan penurunan pagi hari yang hanya 0,08% ke posisi 99,502. Penurunan DXY ini didorong oleh penguatan sejumlah mata uang utama dunia, termasuk euro dan yen, yang menciptakan tekanan terhadap greenback di pasar global. Kondisi ini membuka ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.

Namun, penguatan rupiah tetap terbatas oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve pada bulan September. Peluang kenaikan suku bunga diperkirakan mencapai 61%, meningkat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sikap tegas terhadap inflasi. Pasar kini menantikan rilis data tenaga kerja AS pada Jumat, dengan proyeksi penciptaan 56.000 lapangan kerja baru di Agustus, setelah kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Data yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi menguatkan dolar AS dan membatasi penguatan rupiah.

Penguatan rupiah terjadi sehari setelah Destry Damayanti dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031. Dalam pernyataan pertamanya di Mahkamah Agung, ia menegaskan bahwa Indonesia menghadapi kondisi "higher for longer", di mana inflasi, suku bunga, dan imbal hasil obligasi di negara maju diproyeksikan tetap tinggi dalam waktu lebih lama dari perkiraan. Ia menyatakan bahwa faktor global ini akan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan kebijakan moneter domestik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya