Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.763, Tekanan Dolar Masih Menghantui

Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.763 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan tekanan inflasi domestik yang meningkat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.763, Tekanan Dolar Masih Menghantui
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan Rabu menunjukkan pelemahan sebesar 19 poin, menutup sesi di posisi Rp17.763 per dolar AS, setelah dibuka pada level Rp17.750. Penurunan ini menjadi cerminan dari tekanan berkelanjutan terhadap mata uang lokal, yang berasal dari dinamika eksternal dan kondisi domestik yang memburuk. Penguatan dolar AS secara global, khususnya pasca pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve, menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan ini.

Peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed menambah tekanan pada rupiah, terutama setelah pernyataan dari Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole. Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September telah naik menjadi 65%, meningkat dari 40% pada pekan sebelumnya. Kondisi ini memperkuat daya tarik dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.

Di sisi domestik, inflasi Agustus 2026 mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 0,21%, berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli. Inflasi tahunan juga melonjak menjadi 3,19%, naik dari 2,88% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga di kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menambah tekanan pada kebijakan moneter dan menimbulkan kekhawatiran atas stabilitas harga dalam jangka pendek.

Pengamat ekonomi menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga refleksi dari ketidakstabilan inflasi yang perlu segera ditangani. Dengan kondisi tersebut, prospek rupiah dalam waktu dekat diperkirakan tetap rentan terhadap volatilitas, terutama jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS tetap tinggi dan inflasi domestik tidak segera terkendali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya