Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Sedikit ke Rp17.640 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.640 per dolar AS pada sore hari Senin, mengalami kenaikan tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 19.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah Sedikit ke Rp17.640 per Dolar AS
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore Senin (7/9) berada di level Rp17.640 per dolar AS, menunjukkan pergerakan menguat yang sangat kecil dibandingkan posisi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi meskipun tekanan dari dinamika pasar global tetap ada, terutama menyusul ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih menjadi perhatian investor.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang mengalami pergerakan positif terhadap dolar AS. Yen Jepang menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 0,93 persen, disusul dolar Singapura yang naik 0,08 persen. Sementara itu, yuan China melemah 0,02 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,02 persen, won Korea Selatan menguat 0,33 persen, peso Filipina terapresiasi 0,07 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.

Di pasar global, mata uang utama negara maju juga menunjukkan kecenderungan penguatan. Euro Eropa menguat 0,14 persen, poundsterling Inggris naik 0,15 persen, dolar Australia terapresiasi 0,28 persen, dolar Kanada menguat 0,09 persen, dan franc Swiss menguat 0,09 persen. Penguatan ini mencerminkan sentimen pasar yang cenderung optimistis terhadap ekonomi global meski masih ada ketidakpastian.

Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah terbatas didorong oleh kenaikan data cadangan devisa pada Agustus. Namun, ia menekankan bahwa pergerakan mata uang domestik tetap rentan terhadap sentimen eksternal. Investor masih menimbang dampak dari perkembangan geopolitik serta menanti rilis data ekonomi penting, baik dari dalam negeri seperti kepercayaan konsumen dan penjualan ritel, maupun dari Amerika Serikat, khususnya data inflasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya