Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Meningkat
Nilai tukar rupiah turun sedikit menjadi Rp17.635 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan kenaikan harga minyak global.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 11.29 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada awal perdagangan Selasa (8/9/2026), rupiah bergerak melemah tipis sebesar 0,03% ke level Rp17.635 per dolar AS, menunjukkan tekanan di tengah pelemahan indeks dolar AS yang mencapai 0,39% pada pukul 09.00 WIB. Meski dolar AS mengalami koreksi, rupiah gagal menangkap momentum tersebut dan tetap berada dalam rentang terbatas, hanya mengalami pergerakan 5 poin lebih rendah dibanding posisi penutupan sebelumnya di Rp17.630.
Pelaku pasar kini menahan diri menunggu rilis data inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat pekan ini. Data tersebut menjadi kunci untuk menilai arah kebijakan The Federal Reserve dalam rapat FOMC 15–16 September. Setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan kinerja lebih kuat dari perkiraan, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan ini diperkirakan mencapai 60%. Jika inflasi AS lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS bisa menguat kembali, menambah tekanan terhadap rupiah.
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk juga menjadi faktor pemicu ketegangan pasar. Ancaman balasan Iran terhadap serangan AS terhadap asetnya, termasuk peringatan terhadap infrastruktur energi minyak dan gas, membuat harga minyak Brent melonjak di atas US$97 per barel—level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Kenaikan harga komoditas energi berpotensi mendorong inflasi global, yang pada gilirannya dapat menguatkan dolar AS dan membatasi ruang penguatan rupiah.
Di sisi lain, rupiah mendapat dukungan dari kenaikan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, naik dari US$145,3 miliar pada Juli. Angka ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang mencerminkan ketahanan eksternal yang terjaga. Kondisi ini memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah meski menghadapi tekanan global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Survei IPO menempatkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di posisi lima besar kinerja menteri Kabinet Merah Putih, dengan 12 persen responden menilai kinerjanya baik.
25 Oktober 2026

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Kegiatan Kumitra Jambore 2026 di Banjarmasin bertujuan memperluas akses pasar dan mengintegrasikan pelaku UMKM Kalimantan Selatan ke dalam rantai pasok nasional.
25 Oktober 2026

Penundaan Sertifikasi Halal UMKM Diperpanjang Hingga 2028
Pemerintah memperpanjang tenggat waktu sertifikasi halal bagi UMKM hingga 2028 menyusul belum tercapainya target dan berbagai kendala operasional dari pelaku usaha.
25 Oktober 2026

Gandrung Sewu 2026 Dorong Peningkatan Ekonomi Lokal
Gelaran budaya kolosal Gandrung Sewu 2026 dengan konsep malam hari berhasil tingkatkan okupansi akomodasi dan kunjungan wisatawan di Banyuwangi.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

OJK Sultra Perkenalkan INFINITY Dorong Inovasi Keuangan Digital
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.25 WITA
Putin: Protes Eropa Akibat Gagalnya Kebijakan Dalam Negeri
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.24 WITA

