Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Tembus Rp18 Ribu, Tekanan Inflasi dan Biaya Produksi Mengintai

Pelemahan rupiah hingga Rp17.981 per dolar AS memicu kekhawatiran terhadap lonjakan biaya produksi dan inflasi domestik yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 12.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Tembus Rp18 Ribu, Tekanan Inflasi dan Biaya Produksi Mengintai📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan Selasa (29/9) menunjukkan penurunan signifikan, mencapai Rp17.981 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh level Rp18.012 di tengah hari. Penurunan ini dipicu oleh berlanjutnya tekanan global, terutama dari ekspektasi kebijakan moneter ketat Amerika Serikat yang dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia di atas US$108 per barel dan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter global, yang berdampak pada arus modal dan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Faktor domestik turut menyumbang tekanan, khususnya meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang akhir kuartal III 2026. Selain itu, arus keluar dana dari pasar keuangan emerging markets dan kenaikan yield obligasi negara turut melemahkan rupiah. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperingatkan bahwa jika rupiah bertahan di level Rp18 ribu per dolar AS, dampaknya akan dirasakan luas oleh masyarakat, bukan hanya melalui barang impor, tetapi juga produk domestik yang bergantung pada komponen impor.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Juli 2026 menunjukkan bahwa impor bahan baku dan bahan penolong mencapai US$116,7 miliar, atau sekitar 71,45 persen dari total impor nasional. Komponen tersebut mencakup bahan kimia, plastik, mesin, suku cadang, farmasi, dan bahan kemasan, yang semuanya berpotensi mengalami kenaikan harga akibat depresiasi rupiah. Dampak ini akan menggerus margin produksi, memaksa perusahaan menaikkan harga jual, dan berujung pada inflasi yang menekan daya beli masyarakat.

Dampak berantai dari pelemahan rupiah juga menyentuh sektor keuangan dan ekonomi riil. Jika inflasi melonjak, BI berpotensi menahan suku bunga acuan lebih lama, yang berarti beban cicilan KPR dan kredit kendaraan akan meningkat. UMKM juga terdampak karena biaya modal kerja membengkak. Di sisi lain, penguatan dolar AS memberikan manfaat bagi eksportir dan penerima remitansi, terutama yang memiliki kandungan lokal tinggi, namun sektor yang bergantung pada impor atau memiliki utang valas justru terancam tekanan.

Pakar dari INDEF, Rizal Taufikurahman, menekankan bahwa yang perlu diwaspadai bukan sekadar level kurs, melainkan kecepatan dan keberlanjutan pelemahan. Indikator negatif seperti pelarian modal, kenaikan yield Surat Berharga Negara, penurunan cadangan devisa, dan inflasi yang melonjak harus menjadi perhatian bersama. Ia menyarankan BI tidak serta-merta menaikkan suku bunga acuan, melainkan fokus pada intervensi pasar dan penguatan pasokan devisa ekspor. Kenaikan suku bunga hanya sebaiknya menjadi langkah terakhir jika depresiasi sulit dikendalikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya