Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Terkoreksi Akibat Tekanan Dolar dan Imbal Hasil AS

Nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp17.763 per dolar AS, dipengaruhi penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS, di tengah ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Terkoreksi Akibat Tekanan Dolar dan Imbal Hasil AS
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Rabu, bergerak ke level Rp17.763 per dolar AS, turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.744. Kondisi ini tercermin dari kurs JISDOR Bank Indonesia yang juga melemah menjadi Rp17.770 per dolar AS, menunjukkan tekanan terus berlanjut terhadap mata uang domestik.

Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama penurunan rupiah. Menurut analis dari ICDX, kenaikan imbal hasil Treasury AS memperkuat daya tarik aset dolar, sehingga menarik aliran modal keluar dari aset negara berkembang seperti Indonesia. Ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat juga turut memperkuat dolar, memicu ketidakpastian pasar keuangan global.

Di sisi domestik, aktivitas sektor manufaktur menunjukkan tekanan berkelanjutan, dengan indeks PMI manufaktur Agustus berada di level 49,8—masih di zona kontraksi. Hal ini mengindikasikan penurunan aktivitas produksi, yang menjadi sentimen negatif terhadap rupiah. Sementara itu, inflasi bulanan meningkat menjadi 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,88 persen pada Juli, meski masih berada dalam target Bank Indonesia.

Namun, kinerja neraca perdagangan memberikan sedikit ruang optimisme. Pada Juli, surplus perdagangan mencapai sekitar 120 juta dolar AS, setelah sebelumnya defisit 450 juta dolar AS. Surplus ini berasal dari pertumbuhan ekspor sebesar 6,05 persen, meski tertinggal jauh dari pertumbuhan impor yang mencapai 27,02 persen. Dukungan devisa dari surplus ini tetap menjadi faktor pendukung, meski secara nilai relatif terbatas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya