Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rusia Dakwa Pemimpin Telegram dengan Terorisme

Pemimpin Telegram, Pavel Durov, didakwa Rusia atas dugaan dukungan terhadap terorisme lewat platform pesan yang digunakan untuk rekrutmen intelijen Ukraina.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.59 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Rusia Dakwa Pemimpin Telegram dengan Terorisme📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Pavel Durov, pendiri dan eksekutif Telegram, dituduh secara resmi oleh otoritas keamanan Rusia pada 29 Juli 2026 atas keterlibatan dalam aktivitas terorisme. Dakwaan ini muncul dari penyelidikan FSB yang menyatakan bahwa aplikasi pesan terenkripsi telah dimanfaatkan oleh agen intelijen Ukraina untuk merancang serangan sabotase dan tindakan kekerasan di wilayah Rusia. Dalam laporan yang dikutip media internasional, pihak berwenang Moskow menyatakan bahwa Telegram gagal menghapus sejumlah besar saluran, obrolan, dan bot yang digunakan untuk aktivitas ekstremis dan siber.

Surat perintah penangkapan internasional telah dikeluarkan terhadap Durov, yang saat ini berada di Dubai. Meskipun identitasnya tercatat sebagai warga negara Uni Emirat Arab dan Prancis, ia lahir di Rusia dan telah lama menjadi tokoh kontroversial di dunia digital. Jika terbukti bersalah, Durov bisa menghadapi hukuman penjara seumur hidup. FSB menekankan bahwa aktivitas yang diduga dilakukan melalui Telegram telah menyebabkan kerugian jiwa yang signifikan di dalam negeri.

Tidak ada respons langsung dari Durov atau pihak Telegram terkait dakwaan tersebut. Namun, akun resmi Telegram di X (dahulu Twitter) segera memposting foto yang menampilkan Durov mengacungkan jari tengah sebagai respons simbolik. Sebelumnya, ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut merupakan alasan baru yang dibuat oleh otoritas Rusia untuk membatasi akses publik terhadap platform yang dianggap independen dan privasi tinggi.

Telegram tetap menjadi salah satu aplikasi komunikasi paling populer di Rusia dan Ukraina, meskipun aksesnya sempat dibatasi oleh pemerintah Moskow. Aplikasi ini telah menjadi sarana penting bagi distribusi informasi dalam konflik Rusia-Ukraina, bahkan digunakan secara rutin oleh pejabat tinggi di kedua negara. Durov meninggalkan Rusia pada 2014 setelah menolak permintaan pemerintah untuk menutup komunitas oposisi di VKontakte, platform media sosial yang pernah ia dirikan.

Sejak 2024, Durov juga pernah ditangkap oleh otoritas Prancis atas tuduhan tidak memadainya moderasi konten dan kurangnya kerja sama dengan penegak hukum. Ia kemudian diberi izin pulang setelah masa penahanan. Telegram kini digunakan oleh sekitar 950 juta pengguna global dan secara konsisten menekankan prinsip privasi pengguna sebagai inti operasionalnya. Meskipun menghadapi kritik atas kebijakan moderasinya, pihak aplikasi menegaskan bahwa sistemnya dirancang untuk melindungi kebebasan berbicara tanpa mengorbankan keamanan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya