Minggu, 20 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Salju di Papua Akan Lenyap pada 2027, Tanda Kehilangan Spiritual dan Keberlanjutan

Gletser terakhir di puncak Papua diperkirakan menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027, menandai akhir era salju tropis yang sakral bagi tiga generasi masyarakat adat Amungme dan Moni.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Salju di Papua Akan Lenyap pada 2027, Tanda Kehilangan Spiritual dan Keberlanjutan📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Puncak Carstensz, yang dikenal sebagai Nemangkawi oleh masyarakat adat Amungme dan Mbainggela oleh komunitas Moni, kini hanya menyisakan lapisan es seluas 0,1 kilometer persegi—setara 10 hektare—menurut data Badan Meteorologi Dunia (WMO) Juli 2025. Angka ini menunjukkan penurunan drastis dibandingkan data Agustus 2024, dengan penyusutan minimal 34% dalam waktu satu tahun. Rata-rata penurunan tahunan selama periode 2016 hingga 2022 mencapai tujuh hektare per tahun, menandai tren konsisten yang mempercepat kepunahan gletser tropis di Indonesia.

Prediksi WMO menyatakan bahwa sisa es di dua lokasi—Carstensz dan East Northwall Firn—kini hanya tersisa 2% dari luas pada tahun 1988. Dengan tren ini, es yang tersisa diperkirakan akan lenyap sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027. Fenomena ini bukan hanya indikator perubahan iklim global, tetapi juga representasi ketidakadilan lingkungan, di mana masyarakat adat Papua yang hampir tidak berkontribusi pada emisi karbon justru menjadi yang paling terdampak.

Bagi Elfrida Natkime, perempuan muda dari keluarga pemilik hak ulayat di Mimika, Nemangkawi bukan sekadar gunung, melainkan tempat peristirahatan leluhur dan simbol keberadaan ilahi. Ia menyebutnya sebagai "Hai Jogon", yang berarti seperti surga dalam tradisi keluarganya. Sementara Magdalena Sondegau dari komunitas Moni di Intan Jaya menyatakan bahwa Mbainggela merupakan tempat suci yang tidak boleh dilanggar, bahkan dalam budaya lisan dan nyanyian turun-temurun.

Sejarah pendakian ke puncak ini didominasi oleh eksplorasi ilmiah dan kolonial dari Eropa, dimulai sejak Jan Carstensz melaporkan adanya salju di pesisir Papua pada 1623. Pada awal abad ke-20, ekspedisi ilmiah Belanda seperti yang dipimpin Hendrik Albert Lorentz dan Alexander Wollaston mengubah nama puncak menjadi Wilhelminatop, mengabaikan keberadaan masyarakat lokal. Bahkan, eksplorasi geolog seperti Jean Jaqcues Dozy pada 1936 yang menemukan sumber daya mineral di Ngga Pulu menjadi fondasi eksploitasi pertambangan oleh PT Freeport di Mimika.

Kehilangan salju di puncak ini bukan sekadar perubahan geofisik, tetapi penghancuran dimensi spiritual dan budaya yang telah berlangsung ribuan tahun. Masyarakat adat Amungme, Moni, dan Hubula tidak hanya kehilangan simbol sakral, tetapi juga bagian dari identitas kolektif yang melekat pada alam. Dengan suhu global yang diproyeksikan mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, keberlangsungan budaya dan ekosistem di wilayah ini terancam punah tanpa intervensi yang berkelanjutan dan adil.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya