Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sang Hyang Seri Raih Laba Setelah Pulih dari Krisis Finansial

PT Sang Hyang Seri mencatat laba positif dan EBITDA positif pada 2025, menandai pemulihan signifikan dari kinerja negatif pada 2022, berkat restrukturisasi dan perbaikan operasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 21.18 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sang Hyang Seri Raih Laba Setelah Pulih dari Krisis Finansial📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - PT Sang Hyang Seri berhasil menutup tahun 2025 dengan pencapaian finansial yang menjanjikan, ditandai oleh laba bersih dan EBITDA positif setelah sebelumnya mengalami tekanan berkepanjangan. Pencapaian ini menjadi bukti nyata atas proses pemulihan yang telah dilakukan sejak 2022, ketika perusahaan sempat terpuruk dengan rugi bersih melonjak dan pendapatan merosot lebih dari 30 persen. Dalam keterangan resmi, Direktur Utama Adhi Cahyono menyebut bahwa kontribusi laba kotor dari bisnis benih meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan capaian hingga Agustus 2026 sudah mencapai sekitar 80 persen dari target tahunan 2025.

Perbaikan kinerja ini tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari langkah strategis yang terus dilakukan sejak tahun 2023. Pada 2023, rugi bersih berhasil ditekan hingga 73 persen dibandingkan puncak kerugian 2022. Meski pada 2024 kondisi kembali terdesak akibat kebijakan refocusing yang mengurangi aktivitas noninti dan keterbatasan modal kerja, rugi bersih tetap terkendali dengan penurunan 44 persen dibandingkan titik terendah sebelumnya. Namun, Adhi menegaskan bahwa laba 2025 belum sepenuhnya muncul dari operasi berulang, melainkan juga didukung oleh hasil divestasi dan restrukturisasi aset.

Untuk memastikan keberlanjutan, manajemen membangun lima fondasi utama. Pertama, penguatan aset strategis melalui pemulihan pengelolaan 3.200 hektare lahan di Sukamandi yang kini berfungsi sebagai pusat produksi, riset, dan demonstrasi teknologi dengan kapasitas hingga 27 ribu ton per tahun. Kedua, penguatan kemitraan petani melalui program One Day Payment yang menjamin pembayaran cepat dan pasti, memperkuat kepercayaan dan kualitas pasokan benih.

Ketiga, fokus kembali pada bisnis inti—produksi benih—dengan menarik diri dari kegiatan nonstrategis. Keempat, transformasi organisasi melalui penyederhanaan struktur, perbaikan SOP, serta digitalisasi proses operasional yang berhasil mengurangi biaya tenaga kerja hingga sekitar 40 persen. Kelima, perbaikan neraca melalui restrukturisasi utang lama dan divestasi aset noninti, membuka ruang bagi modal kerja yang lebih sehat.

Adhi menekankan bahwa langkah selanjutnya adalah menjadikan laba yang dihasilkan sebagai hasil dari operasi berulang, bukan sekadar efek samping restrukturisasi. Ia menegaskan bahwa tujuan jangka panjang adalah menciptakan arus kas operasional positif, optimalisasi aset, serta keberlanjutan profitabilitas dari inti bisnis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya