Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Seni Henna dan Batik Indonesia Menyapa Pengunjung Shanghai

Pameran budaya di Shanghai menampilkan henna alami dan batik sebagai wajah kekayaan budaya Indonesia yang kini diminati generasi muda China.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 19.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Seni Henna dan Batik Indonesia Menyapa Pengunjung Shanghai
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Di tengah gemerlap kota metropolitan Shanghai, sebuah pameran budaya berjudul "Spirit of Indonesia 2026: An Odyssey through the Island of Opportunity" berhasil menarik perhatian publik dengan kehadiran seni henna tradisional dan batik asli dari Indonesia. Acara yang berlangsung pada Sabtu (29/8) menjadi ajang pertukaran budaya yang mendalam, di mana seni rakyat Indonesia tampil sebagai simbol keberagaman dan kekayaan narasi keindahan yang tak lekang oleh waktu. Pengunjung dari berbagai latar belakang, terutama kalangan muda, terpukau oleh detail motif dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya.

Salah satu stan yang paling ramai adalah "Caryn Henna Art", tempat seorang seniman Indonesia, Caryn, memperagakan teknik melukis henna menggunakan alat berbentuk kerucut dan bahan pewarna alami dari tumbuhan. Dengan kepiawaian tinggi, ia menciptakan desain rumit di kulit tangan seorang perempuan muda asal China. Caryn, yang pernah menempuh studi di Universitas Donghua, memilih tinggal di Shanghai setelah lulus demi mengembangkan karyanya. Ia menyampaikan bahwa awalnya banyak yang tidak mengenal henna sebagai bagian dari budaya Indonesia, namun kini karya-karyanya telah menjadi tren di kalangan konsumen lokal, terutama setelah dimodifikasi dengan sentuhan estetika Timur.

Di sisi lain, stan yang menampilkan batik tradisional Indonesia juga menjadi sorotan utama. Poppy, perajin yang mengenakan busana tradisional, dengan antusias menjelaskan makna di balik setiap motif dan proses pembuatan kain yang memakan waktu berbulan-bulan. Banyak pengunjung China yang tertarik, bahkan meminta panduan bagaimana memadukan batik dengan gaya busana modern sehari-hari. Keterkejutan dan kegembiraan terpancar dari Poppy saat menyadari bahwa tekstil asli Indonesia kini tidak hanya dihargai, tetapi juga menjadi bagian dari tren fesyen di Shanghai.

Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, menekankan bahwa pameran ini bukan sekadar promosi budaya, melainkan bentuk kolaborasi emosional antarbangsa. Ia menyatakan bahwa frasa "Island of Opportunity" dalam tema acara mencerminkan potensi luas Indonesia tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam kerja sama kreatif dan budaya. Menurutnya, seni seperti henna dan batik bukan sekadar produk, tetapi jembatan yang membawa kehangatan dan pengertian bersama antara dua masyarakat.

Dengan antusiasme yang tinggi dari konsumen China terhadap kerajinan tangan bernilai budaya tinggi, Indonesia kembali menunjukkan bahwa kekayaan budayanya jauh melampaui destinasi wisata. Melalui seni yang hidup dan autentik, generasi muda kedua negara kini dapat menemukan kesamaan, memahami nilai-nilai lokal, dan membangun hubungan yang lebih dalam. Karya-karya ini bukan hanya keindahan visual, tetapi juga narasi kolektif yang terus mengalir dari masa ke masa.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya