Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sungai Kapuas Kering, Aktivitas Angkut Batu Bara Terhenti

Kekeringan Sungai Kapuas akibat kemarau panjang menghambat operasional kapal tongkang batu bara, dengan debit air menyusut hingga membuat sejumlah kapal kandas selama tiga bulan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 10.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sungai Kapuas Kering, Aktivitas Angkut Batu Bara Terhenti
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi kering yang melanda Sungai Kapuas di Kalimantan Barat telah menghentikan sementara aktivitas pengangkutan batu bara melalui jalur sungai. Selama empat bulan terakhir, wilayah tersebut tidak diguyur hujan secara signifikan, menyebabkan debit air menurun drastis hingga membuat kapal tongkang tidak mampu berlayar. Fenomena ini menimbulkan keterlambatan logistik di sejumlah wilayah pengolahan batu bara, terutama di Kalimantan Timur, di mana distribusi barang terhambat akibat tidak adanya aliran air yang memadai.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa kendala operasional bukan disebabkan oleh pembatasan produksi atau kebijakan pemerintah. Ia menjelaskan secara langsung bahwa persoalan utama berada pada kondisi fisik sungai yang tidak lagi memungkinkan perjalanan kapal. “Bukan karena dibatasi produksinya, tapi karena airnya enggak ada. Sungai kering, jadi tongkangnya enggak bisa jalan,” tegasnya dalam sebuah forum di Jakarta, menegaskan bahwa penyebab utama adalah faktor teknis dari penurunan level air.

Kondisi tersebut menimbulkan pemandangan tak lazim di sepanjang aliran Sungai Kapuas, khususnya di Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir. Sebuah kapal tongkang yang kandas telah berada di lokasi tersebut selama hampir tiga bulan, menyerupai bangkai kapal yang terjebak di tengah hamparan pasir. Permukaan dasar sungai yang biasanya terendam kini terbuka luas, mengubah area yang sebelumnya menjadi jalur transportasi menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan warga sebagai tempat bersantai, berkumpul, dan menikmati matahari terbenam.

Kejadian ini menjadi perhatian publik melalui berbagai unggahan media sosial, termasuk dari akun @atr.drone yang menampilkan rekaman visual dari kondisi sungai yang kini tampak seperti gurun pasir. Meski menjadi objek wisata dadakan, kondisi tersebut justru menjadi peringatan atas kerentanan sistem logistik pertambangan terhadap perubahan iklim ekstrem. Kekeringan berkepanjangan menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap kondisi hidrologis yang tidak stabil, yang berdampak langsung pada kelancaran distribusi komoditas strategis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya