Sungai Kapuas Kering, Aktivitas Angkut Batu Bara Terhenti
Kekeringan Sungai Kapuas akibat kemarau panjang menghambat operasional kapal tongkang batu bara, dengan debit air menyusut hingga membuat sejumlah kapal kandas selama tiga bulan.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 10.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kondisi kering yang melanda Sungai Kapuas di Kalimantan Barat telah menghentikan sementara aktivitas pengangkutan batu bara melalui jalur sungai. Selama empat bulan terakhir, wilayah tersebut tidak diguyur hujan secara signifikan, menyebabkan debit air menurun drastis hingga membuat kapal tongkang tidak mampu berlayar. Fenomena ini menimbulkan keterlambatan logistik di sejumlah wilayah pengolahan batu bara, terutama di Kalimantan Timur, di mana distribusi barang terhambat akibat tidak adanya aliran air yang memadai.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa kendala operasional bukan disebabkan oleh pembatasan produksi atau kebijakan pemerintah. Ia menjelaskan secara langsung bahwa persoalan utama berada pada kondisi fisik sungai yang tidak lagi memungkinkan perjalanan kapal. “Bukan karena dibatasi produksinya, tapi karena airnya enggak ada. Sungai kering, jadi tongkangnya enggak bisa jalan,” tegasnya dalam sebuah forum di Jakarta, menegaskan bahwa penyebab utama adalah faktor teknis dari penurunan level air.
Kondisi tersebut menimbulkan pemandangan tak lazim di sepanjang aliran Sungai Kapuas, khususnya di Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir. Sebuah kapal tongkang yang kandas telah berada di lokasi tersebut selama hampir tiga bulan, menyerupai bangkai kapal yang terjebak di tengah hamparan pasir. Permukaan dasar sungai yang biasanya terendam kini terbuka luas, mengubah area yang sebelumnya menjadi jalur transportasi menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan warga sebagai tempat bersantai, berkumpul, dan menikmati matahari terbenam.
Kejadian ini menjadi perhatian publik melalui berbagai unggahan media sosial, termasuk dari akun @atr.drone yang menampilkan rekaman visual dari kondisi sungai yang kini tampak seperti gurun pasir. Meski menjadi objek wisata dadakan, kondisi tersebut justru menjadi peringatan atas kerentanan sistem logistik pertambangan terhadap perubahan iklim ekstrem. Kekeringan berkepanjangan menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap kondisi hidrologis yang tidak stabil, yang berdampak langsung pada kelancaran distribusi komoditas strategis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
ANTAM Perkuat Pengelolaan SDA untuk Kesejahteraan Masyarakat
ANTAM tekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan demi kesejahteraan rakyat di Sulawesi Tenggara.
8 September 2026
Gubernur Sultra Minta Penegak Hukum Periksa Istri Terkait Denda Tambang Nikel di Hutan Lindung
Gubernur Sultra menanggapi denda Rp2,19 triliun terhadap PT TMS dengan menyerahkan penjelasan kepada penegak hukum dan menegaskan tidak menjadi pihak yang berwenang menjawab.
8 September 2026

PTBA Perkuat Diversifikasi, Sasaran 20% Pendapatan dari Hilirisasi
PTBA menargetkan kontribusi pendapatan dari hilirisasi dan diversifikasi produk mencapai 20% dalam empat tahun, didukung proyek gasifikasi dan energi terbarukan.
8 September 2026

Tembaga dan Emas Jadi Pilar Ekonomi Berkelanjutan
Pengelolaan tembaga di Indonesia kini berfokus pada hilirisasi dan integrasi industri, dengan produksi emas dari PMR PTFI mulai mendukung kebutuhan domestik dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA


