Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sungai Kapuas Kering, Angkutan Batu Bara Terhambat

Kekeringan di Sungai Kapuas akibat kemarau panjang dan El Nino mengganggu operasional kapal tongkang, berdampak pada kelancaran pengangkutan batu bara di Kalimantan Barat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 07.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sungai Kapuas Kering, Angkutan Batu Bara Terhambat
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi kekeringan yang melanda Sungai Kapuas di Kalimantan Barat mulai memengaruhi aktivitas logistik utama, khususnya pengangkutan batu bara menggunakan kapal tongkang. Penurunan debit air yang signifikan menyebabkan sejumlah kapal terjebak di dasar sungai, bahkan salah satunya telah kandas selama hampir tiga bulan. Fenomena ini tidak hanya mengubah lanskap alam, tetapi juga mengganggu arus produksi dan distribusi komoditas energi strategis.

Dampak langsung dari penurunan muka air adalah pembatasan draft kapal, sehingga kapasitas muatan tidak dapat dimaksimalkan. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tambang terpaksa menunda pengiriman atau membatasi jumlah barang yang diangkut per perjalanan. Hal ini berpotensi menimbulkan akumulasi stok batu bara di area tambang maupun di gudang penyimpanan pelabuhan, terutama di wilayah yang bergantung pada jalur sungai sebagai jalur utama distribusi.

Pihak Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengakui adanya gangguan logistik, namun menegaskan bahwa hal tersebut belum cukup menjadi penentu utama pergerakan harga batu bara di pasar global. Menurut pernyataan resmi, faktor dominan yang memengaruhi harga tetap berada pada dinamika permintaan dan pasokan internasional, serta kebijakan perdagangan global, bukan sekadar kendala lokal seperti kekeringan sungai.

Meski demikian, kondisi ini menjadi peringatan atas ketergantungan industri batu bara terhadap kondisi lingkungan dan perubahan iklim. Kekeringan yang dipicu oleh El Nino dan musim kemarau panjang menunjukkan kerentanan infrastruktur logistik berbasis sungai. Masyarakat setempat pun memanfaatkan perubahan ini sebagai ruang terbuka untuk aktivitas rekreasi, seperti berkumpul bersama keluarga dan menikmati matahari terbenam di atas dasar sungai yang kini terbuka luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya