Sungai Kapuas Kering, Angkutan Batu Bara Terhambat
Kekeringan di Sungai Kapuas akibat kemarau panjang dan El Nino mengganggu operasional kapal tongkang, berdampak pada kelancaran pengangkutan batu bara di Kalimantan Barat.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 07.27 WITA·👁 6 orang membaca· 0 hari ini · 25x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kondisi kekeringan yang melanda Sungai Kapuas di Kalimantan Barat mulai memengaruhi aktivitas logistik utama, khususnya pengangkutan batu bara menggunakan kapal tongkang. Penurunan debit air yang signifikan menyebabkan sejumlah kapal terjebak di dasar sungai, bahkan salah satunya telah kandas selama hampir tiga bulan. Fenomena ini tidak hanya mengubah lanskap alam, tetapi juga mengganggu arus produksi dan distribusi komoditas energi strategis.
Dampak langsung dari penurunan muka air adalah pembatasan draft kapal, sehingga kapasitas muatan tidak dapat dimaksimalkan. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tambang terpaksa menunda pengiriman atau membatasi jumlah barang yang diangkut per perjalanan. Hal ini berpotensi menimbulkan akumulasi stok batu bara di area tambang maupun di gudang penyimpanan pelabuhan, terutama di wilayah yang bergantung pada jalur sungai sebagai jalur utama distribusi.
Pihak Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengakui adanya gangguan logistik, namun menegaskan bahwa hal tersebut belum cukup menjadi penentu utama pergerakan harga batu bara di pasar global. Menurut pernyataan resmi, faktor dominan yang memengaruhi harga tetap berada pada dinamika permintaan dan pasokan internasional, serta kebijakan perdagangan global, bukan sekadar kendala lokal seperti kekeringan sungai.
Meski demikian, kondisi ini menjadi peringatan atas ketergantungan industri batu bara terhadap kondisi lingkungan dan perubahan iklim. Kekeringan yang dipicu oleh El Nino dan musim kemarau panjang menunjukkan kerentanan infrastruktur logistik berbasis sungai. Masyarakat setempat pun memanfaatkan perubahan ini sebagai ruang terbuka untuk aktivitas rekreasi, seperti berkumpul bersama keluarga dan menikmati matahari terbenam di atas dasar sungai yang kini terbuka luas.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Uji Lapangan HD785-7 Hybrid EREV Dimulai di Pertambangan Indonesia
Uji lapangan alat berat hybrid EREV Komatsu dilakukan di lokasi pertambangan milik anak usaha United Tractors untuk mengukur efisiensi dan kinerja teknologi elektrifikasi.
24 Oktober 2026

Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis
Investasi terkoordinasi dan rantai pasok yang kuat menjadi kunci utama untuk mengeksploitasi nilai tambah tinggi dari mineral kritis di Indonesia.
24 Oktober 2026

Antam Siap Kelola Tambang Emas Baru di Papua
Pemerintah menutup operasional tambang emas PT Kristalin Eka Lestari di Nabire dan menyerahkan kawasan seluas 275,36 hektare kepada PT Aneka Tambang Tbk untuk pengelolaan berkelanjutan.
24 Oktober 2026

ANTAM Perkuat Fondasi Bisnis untuk Nilai Tambah Jangka Panjang
Perusahaan tambang nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan di semester pertama 2026, dengan pendapatan Rp62,71 triliun dan laba naik 34%, seiring fokus pada hilirisasi dan optimalisasi operasional.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu per Gram Hari Ini
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA

Investor Desak MSCI Jelaskan Alasan Penurunan Status Pasar Indonesia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Suahasil Lantik Pejabat Baru, Sekjen Kemenkeu Diganti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Bahlil Dorong E50 untuk Kurangi Impor BBM
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Kemenkeu
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Ibu 55 Tahun Ajak Anak Cari Kerja di Job Fair Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.24 WITA

