Jumat, 18 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Target Nol Kematian Akibat DBD pada 2030 Ditetapkan Pemerintah

Pemerintah menetapkan target nol kematian akibat dengue pada 2030 melalui Rencana Aksi Nasional 2026–2029 yang mengintegrasikan pencegahan, deteksi dini, dan kolaborasi lintas sektor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 15.48 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Target Nol Kematian Akibat DBD pada 2030 Ditetapkan Pemerintah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Republik Indonesia menetapkan komitmen strategis untuk menghilangkan kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2030. Langkah ini menjadi bagian dari Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026–2029 yang sedang disusun secara menyeluruh oleh Kementerian Kesehatan. Rencana ini dirancang sebagai kerangka kerja bersama untuk memperkuat sistem pencegahan, deteksi dini, pengendalian vektor, serta penanganan klinis yang efektif.

Dengan kondisi endemik yang berlangsung sepanjang tahun di wilayah tropis seperti Indonesia, upaya pengendalian dengue harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Pemerintah menekankan pentingnya keterlibatan semua elemen, termasuk kementerian, lembaga pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat umum. Fokus utama bukan hanya pada penanganan pasca-infeksi, tetapi pada pencegahan sejak dini melalui penguatan surveilans dan intervensi berbasis komunitas.

Studi dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK) UGM memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024, termasuk lebih dari dua juta kunjungan rawat inap. Meskipun Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menanggung sebagian besar biaya medis, keluarga pasien tetap menghadapi beban tambahan seperti transportasi, konsumsi, akomodasi pendamping, dan kerugian pendapatan. Rata-rata pengeluaran mandiri pasien yang tercakup JKN berkisar antara Rp1,09 juta hingga Rp1,33 juta per episode, sementara bagi yang tidak memiliki asuransi, angka tersebut mencapai Rp4,27 juta hingga Rp5,60 juta.

Untuk memperkuat strategi pencegahan, pemerintah mendorong penerapan berbagai inovasi seperti teknologi Wolbachia, vaksinasi dengue pada anak usia sekolah, serta pemberantasan sarang nyamuk 3M Plus. Studi dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa vaksinasi dengue berpotensi menghemat biaya dan mencegah 1,1–1,3 juta tahun hidup sehat yang hilang selama 20 tahun. Pendekatan ini menekankan bahwa pencegahan bukan sekadar biaya, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat dan ketahanan sistem kesehatan nasional.

Koalisi KOBAR Lawan Dengue mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta, media, akademisi, dan masyarakat, untuk membangun gerakan nasional melawan dengue. Mereka menekankan bahwa DBD dapat dikendalikan jika semua pihak bergerak bersama, dengan fokus pada edukasi, deteksi dini, pengendalian vektor, dan pemanfaatan inovasi kesehatan. Tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan yang bebas dari risiko kematian akibat dengue.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya