PT Timah Mulai Kelola Logam Tanah Jarang dari Sisa Tambang
PT Timah resmi memulai pengelolaan logam tanah jarang dari sisa hasil produksi tambang timah, berkat dukungan regulasi dan kolaborasi dengan lembaga industri mineral.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 15.35 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - PT Timah Tbk kini secara resmi memulai proses pengelolaan logam tanah jarang (LTJ), setelah sebelumnya tidak memiliki kewenangan untuk menangani komoditas strategis tersebut. Kegiatan ini merupakan respons terhadap potensi nilai tambah yang terpendam dalam sisa hasil produksi (SHP) timah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Perusahaan kini telah mendapatkan mandat untuk menangani mineral kritis ini, yang menjadi bagian dari transformasi industri pertambangan berkelanjutan.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro menyatakan bahwa proses pengelolaan LTJ merupakan tantangan kompleks, namun pihaknya yakin mampu menjalankannya. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan penuh dari kementerian terkait dan partisipasi aktif lembaga legislatif. "Ini sangat menantang, tetapi dengan sumber daya yang dimiliki dan dukungan dari berbagai pihak, kami memiliki keyakinan tinggi," ujarnya.
Salah satu alasan PT Timah berada di posisi strategis adalah karena sebagian besar bahan baku logam tanah jarang ditemukan dalam aktivitas penambangan timah. Dengan memanfaatkan slag atau limbah hasil produksi, perusahaan tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang baru dalam industri hilir. Pendekatan ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekosistem industri mineral nasional.
Kolaborasi dengan Badan Industri Mineral (BIM) dan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) menjadi kunci dalam proses ini. Sementara Perminas memiliki mandat menyeluruh dari hulu hingga hilir, PT Timah berperan sebagai penyedia bahan baku utama. Dengan sinergi ini, diharapkan pengelolaan logam tanah jarang dapat berjalan efisien, mendukung kemandirian energi, serta memperkuat posisi Indonesia di pasar global komoditas strategis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Moody's Turunkan Prospek Bayan Resources ke Negatif
Prospek negatif diberikan Moody's terhadap Bayan Resources akibat ketidakpastian kuota produksi, meski peringkat kredit tetap stabil di Ba1.
18 September 2026

Prabowo Dorong Hilirisasi Bauksit, Target Nilai Tambah 40 Kali Lipat
Presiden Prabowo Subianto menegaskan strategi hilirisasi bauksit hingga menjadi aluminium untuk mencapai nilai tambah hingga 40 kali lipat dan menargetkan kontribusi ekonomi hingga US$16 miliar pada 2030.
17 September 2026

China Temukan Depositan Mineral Laut Berpotensi Emas Tinggi
Penelitian China mengungkap endapan sulfida polimetalik berpotensi tinggi di Pasifik Barat, dengan kandungan emas mencapai 15,4 gram per ton bijih.
16 September 2026

El Nino Picu Kekurangan Listrik di Sulawesi dan Kalimantan
Kekurangan pasokan listrik di Sulawesi dan Kalimantan disebabkan penurunan debit air akibat El Nino, bukan kelangkaan batu bara sesuai RKAB.
16 September 2026
Berita Lainnya

Target Nol Kematian Akibat DBD pada 2030 Ditetapkan Pemerintah
Jumat, 18 September 2026, 15.48 WITA
Kafe Viral di Korea dengan Konsep Toilet Berwarna-Warni
Jumat, 18 September 2026, 15.46 WITA

Menteri Minta Pemilik Mobil Mewah Hentikan Penggunaan BBM Subsidi
Jumat, 18 September 2026, 15.44 WITA

Tujuh Wilayah Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Hingga Akhir 2026
Jumat, 18 September 2026, 15.44 WITA

25 Penyelenggara Digital Terancam Diblokir Jika Tak Daftar ke Komdigi
Jumat, 18 September 2026, 15.37 WITA

Giuseppe Garibaldi Tiba di Tanjung Priok, Kapal Induk Pertama RI dari Italia
Jumat, 18 September 2026, 15.36 WITA

KBJI 2026 Resmi Diluncurkan, Perbarui Klasifikasi Pekerjaan Nasional
Jumat, 18 September 2026, 15.36 WITA

Warga Diminta Jaga Keadilan Akses BBM Subsidi
Jumat, 18 September 2026, 15.35 WITA


