Moody's Turunkan Prospek Bayan Resources ke Negatif
Prospek negatif diberikan Moody's terhadap Bayan Resources akibat ketidakpastian kuota produksi, meski peringkat kredit tetap stabil di Ba1.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 15.31 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Moody's Ratings menurunkan prospek perusahaan tambang PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dari stabil ke negatif, menandai kekhawatiran terhadap tantangan regulasi yang menghambat peningkatan kapasitas produksi. Keputusan ini dipicu oleh keterlambatan pemerintah dalam menyetujui revisi kuota produksi tahunan, yang memaksa perusahaan mengumumkan force majeure atas kewajiban pasokan batu bara. Tanpa peningkatan kuota, produksi perusahaan diperkirakan merosot dari 68 juta metrik ton (MT) pada 2025 menjadi sekitar 39 juta MT di 2026, berdampak langsung pada kinerja keuangan.
Meskipun demikian, kekuatan fundamental perusahaan tetap terjaga, terutama dari struktur neraca bebas utang dan likuiditas yang sangat baik. Moody's menilai bahwa arus kas operasional yang kuat akan mampu menopang belanja modal untuk ekspansi kapasitas produksi hingga mencapai target 80 juta MT dalam beberapa tahun ke depan. Namun, ketidakpastian berkelanjutan mengenai alokasi kuota mengancam keberlanjutan rencana produksi dan pemenuhan kontrak, yang berpotensi memperkecil pertumbuhan laba dan arus kas.
Dalam skenario terburuk, jika kuota tidak ditingkatkan, EBITDA Bayan diperkirakan turun dari US$1,1 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$700 juta di 2026. Jika produksi tetap di level 39 juta MT pada 2027, dengan asumsi harga jual rata-rata US$48/MT, laba akan menyusut lebih lanjut menjadi antara US$400 juta hingga US$500 juta—jauh di bawah proyeksi awal sekitar US$1 miliar per tahun. Hal ini mencerminkan dampak signifikan dari keterbatasan akses kuota terhadap kinerja finansial jangka menengah.
Sementara itu, perusahaan tetap memiliki fleksibilitas keuangan melalui fasilitas modal kerja yang disetujui namun belum digunakan sebesar sekitar US$650 juta hingga akhir Juni 2026, serta kas internal yang cukup untuk menopang operasional dan pembayaran dividen hingga 18 bulan ke depan. Penurunan peringkat tidak akan terjadi dalam 12 hingga 18 bulan mendatang, kecuali terjadi gangguan operasional berkepanjangan atau perubahan struktur kepemilikan yang memicu kebijakan keuangan lebih agresif.
Seiring dengan penurunan prospek, manajemen Bayan Resources mengumumkan perubahan kepemilikan melalui perjanjian jual beli saham bersyarat antara pendiri perusahaan, Low Tuck Kwong, dan anaknya, Elaine Low, dengan PT Jhonlin Baratama—bagian dari Jhonlin Group milik Andi Syamsuddin Arsyad. Transaksi ini mencakup rencana pengalihan 10 miliar 500 juta saham biasa, tetapi masih tergantung pada pemenuhan syarat pendahuluan. Manajemen menegaskan bahwa proses ini tidak akan memengaruhi operasional, keuangan, atau kelangsungan usaha perusahaan secara material.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PT Timah Mulai Kelola Logam Tanah Jarang dari Sisa Tambang
PT Timah resmi memulai pengelolaan logam tanah jarang dari sisa hasil produksi tambang timah, berkat dukungan regulasi dan kolaborasi dengan lembaga industri mineral.
18 September 2026

Prabowo Dorong Hilirisasi Bauksit, Target Nilai Tambah 40 Kali Lipat
Presiden Prabowo Subianto menegaskan strategi hilirisasi bauksit hingga menjadi aluminium untuk mencapai nilai tambah hingga 40 kali lipat dan menargetkan kontribusi ekonomi hingga US$16 miliar pada 2030.
17 September 2026

China Temukan Depositan Mineral Laut Berpotensi Emas Tinggi
Penelitian China mengungkap endapan sulfida polimetalik berpotensi tinggi di Pasifik Barat, dengan kandungan emas mencapai 15,4 gram per ton bijih.
16 September 2026

El Nino Picu Kekurangan Listrik di Sulawesi dan Kalimantan
Kekurangan pasokan listrik di Sulawesi dan Kalimantan disebabkan penurunan debit air akibat El Nino, bukan kelangkaan batu bara sesuai RKAB.
16 September 2026
Berita Lainnya

Target Nol Kematian Akibat DBD pada 2030 Ditetapkan Pemerintah
Jumat, 18 September 2026, 15.48 WITA
Kafe Viral di Korea dengan Konsep Toilet Berwarna-Warni
Jumat, 18 September 2026, 15.46 WITA

Menteri Minta Pemilik Mobil Mewah Hentikan Penggunaan BBM Subsidi
Jumat, 18 September 2026, 15.44 WITA

Tujuh Wilayah Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Hingga Akhir 2026
Jumat, 18 September 2026, 15.44 WITA

25 Penyelenggara Digital Terancam Diblokir Jika Tak Daftar ke Komdigi
Jumat, 18 September 2026, 15.37 WITA

Giuseppe Garibaldi Tiba di Tanjung Priok, Kapal Induk Pertama RI dari Italia
Jumat, 18 September 2026, 15.36 WITA

KBJI 2026 Resmi Diluncurkan, Perbarui Klasifikasi Pekerjaan Nasional
Jumat, 18 September 2026, 15.36 WITA

Warga Diminta Jaga Keadilan Akses BBM Subsidi
Jumat, 18 September 2026, 15.35 WITA


