Trump Marah Gagal Dapat Nobel Perdamaian
Presiden AS Donald Trump menyatakan kekecewaan mendalam setelah kembali gagal meraih Nobel Perdamaian, menyalahkan Norwegia dan menyebut pemenang tahun ini sebagai sosok yang tak dikenal.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan kemarahan terhadap keputusan Komite Nobel setelah penghargaan perdamaian tahun ini diberikan kepada Navi Pillay, mantan hakim Mahkamah Pidana Internasional yang terlibat dalam penyelidikan dugaan kejahatan genosida di Gaza. Pernyataan emosional Trump disampaikan langsung dalam kampanye di Syracuse, New York, di mana ia menyebut nama Pillay sebagai tidak dikenal oleh publik dan menilai keputusan tersebut merusak reputasi Norwegia sebagai tuan rumah komite.
Trump menekankan bahwa ia tidak pernah mendengar sosok yang dianggap menerima penghargaan itu, serta menilai penghargaan tersebut sebagai bentuk penilaian yang tidak adil dan dipengaruhi ideologi ekstrem. Ia menegaskan bahwa keputusan komite telah menorehkan “noda yang tak terhapuskan” dan menyerukan keberpihakan terhadap nilai-nilai demokrasi yang dianggap terancam oleh kelompok yang ia sebut anti-demokrasi dan musuh peradaban.
Dalam pernyataannya, Trump kembali mengklaim andil besar dalam mencegah eskalasi konflik global selama masa jabatannya, termasuk dalam ketegangan antara Korea Utara dan Selatan, Jepang dengan Korea Utara, serta sengketa antara China dan Taiwan. Namun, klaim tersebut tidak disertai data atau bukti konkret yang mendukung. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan upaya diplomasi yang signifikan, meskipun tidak pernah secara resmi diakui oleh lembaga internasional.
Pernyataan Trump tahun ini merupakan kelanjutan dari sikap yang sama pada edisi Nobel Perdamaian 2025, ketika ia juga menyatakan dirinya layak menerima penghargaan, meski tidak terpilih. Saat itu, penghargaan jatuh pada Maria Corina Machado, politikus oposisi Venezuela yang memiliki hubungan politik dengan Trump dan berseberangan dengan Presiden Nicolas Maduro. Kini, kekecewaan Trump kembali muncul, menggambarkan pola konsisten dalam menilai penilaian internasional sebagai bias dan tidak adil.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Tonton Videonya
Berita Terkait

Pendemo dan Tokoh Oposisi Ditangkap Jelang Aksi Besar di New Delhi
Ratusan demonstran dan tokoh oposisi ditangkap polisi New Delhi menjelang aksi protes besar menuntut pengunduran diri kepala komisi pemilihan umum.
10 Oktober 2026

Polisi Dalami Keterlibatan Tiga Orang dalam Kasus Kekerasan Santriwati
Penyidik Polres Metro Bekasi Kota mendalami keterlibatan tiga pihak lain dalam dugaan kasus kekerasan seksual terhadap santriwati di pesantren Bekasi Selatan.
10 Oktober 2026

Kapolda Metro Buka Nomor WA Pribadi untuk Aspirasi Publik
Kapolda Metro Jaya siapkan saluran baru lewat WhatsApp pribadi untuk menerima pengaduan, kritik, dan saran masyarakat secara langsung.
10 Oktober 2026

Kapolda Metro Siapkan Nomor WA Pribadi untuk Layanan Publik
Kapolda Metro Jaya siapkan nomor WhatsApp pribadi sebagai saluran resmi masyarakat untuk aduan, kritik, dan saran secara langsung.
10 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anwar Ibrahim Dorong Kenaikan Upah dan Diskon Pajak Jelang Pemilu
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.30 WITA

Bank Sampah Putri Nyale Dukung Kebersihan Mandalika
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.29 WITA

Asing Kompak Beli 10 Saham Ini Saat IHSG Melemah
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.28 WITA

Realisasi Capex dan Dividen Tumbuh, Saham Ritel dan Digital Jadi Sorotan
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.28 WITA

ADHI Lepas Saham Tol Jogja-Solo ke SMI Senilai Rp1,77 T
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.28 WITA

IHSG Awal Perdagangan Naik Tipis di 6.154
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.28 WITA

Bulog Rencanakan Bangun 100 Gudang Baru untuk Kurangi Sewa
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.24 WITA

Hemat Belanja Pangan Saat Harga Melonjak
Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.24 WITA



