Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Sambut Rabi Hasidik Anti-Zionis di Gedung Putih

Presiden AS Donald Trump menggelar pertemuan dengan rabi Hasidik anti-Zionis di Gedung Putih, menyoroti penolakan terhadap representasi Israel atas komunitas Yahudi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 07.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Trump Sambut Rabi Hasidik Anti-Zionis di Gedung Putih
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut delegasi rabi dari komunitas Yahudi Hasidik yang dikenal menolak ideologi Zionisme, dalam pertemuan di Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis (3/9). Kedatangan mereka disertai surat terbuka yang mendesak penghentian operasi militer di Jalur Gaza, menekankan bahwa kebijakan Israel tidak mewakili seluruh umat Yahudi. Surat tersebut menegaskan bahwa perang di Gaza bukanlah perwakilan dari nilai-nilai agama atau tradisi Yahudi.

Salah satu tokoh utama dalam pertemuan ini adalah Rabi Agung Aaron Teitelbaum, yang sebelumnya pernah menyatakan secara tegas bahwa komunitas Yahudi tidak terlibat dalam agresi Israel terhadap Palestina. Ia menegaskan bahwa "Zionisme bukan bagian dari keimanan kami, dan pemerintah Israel tidak berhak menyebut dirinya sebagai wakil umat Yahudi." Pernyataan ini menjadi dasar dari kritik terhadap kebijakan Israel yang dianggap menyimpang dari ajaran agama.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut rabi-rabi dari berbagai aliran Hasidik, termasuk Zalman Leib Teitelbaum, Bobov, Vizhnitz, serta Kepala Yeshiva Lakewood, Malkiel Kotler. Di sisi lain, Jared Kushner, menantu Trump yang juga anggota Dewan Perdamaian, serta Wakil Presiden JD Vance dan anggota DPR Republik Mike Lawler turut hadir. Dalam suasana santai, Vance sempat bercanda dengan para rabi, menanyakan alasan perbedaan warna jubah Hasidik yang dipakai, yang kemudian dijawab dengan humor bahwa warna jubah sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.

Pertemuan ini digelar menjelang perayaan Rosh Hashanah, dan menjadi yang pertama kali Gedung Putih menyambut delegasi Hasidik sejak 1979. Momentum ini mencerminkan upaya diplomasi yang menekankan perbedaan antara agama dan politik, serta menunjukkan adanya ruang bagi suara minoritas Yahudi yang menolak kebijakan Zionis. Tujuan utama pertemuan adalah menekankan bahwa keberpihakan terhadap Israel tidak bisa dianggap sebagai representasi tunggal dari komunitas Yahudi global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya