Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Tunda Serangan ke Iran Akibat Kekurangan Rudal Pertahanan

Presiden AS menunda rencana agresi militer terhadap Iran karena kekhawatiran stok rudal pertahanan udara menipis dan risiko eskalasi konflik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Trump Tunda Serangan ke Iran Akibat Kekurangan Rudal Pertahanan📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat memutuskan menunda aksi militer lanjutan terhadap Iran setelah menimbang dampak strategis dan ketersediaan amunisi pertahanan udara. Keputusan ini diambil menyusul laporan internal yang menunjukkan cadangan rudal jenis Patriot dan sistem pertahanan lainnya di kawasan Timur Tengah mengalami penurunan signifikan. Kekhawatiran utama muncul dari potensi kehabisan stok yang bisa melemahkan kemampuan pertahanan AS dalam menghadapi ancaman serangan balasan.

Pertemuan tertutup dengan para penasihat utama dan pejabat tinggi militer pada Jumat menjadi titik penting dalam proses pengambilan keputusan. Dalam pertemuan itu, sejumlah kepala dinas militer menyampaikan bahwa meski operasi besar masih bisa dilaksanakan secara teknis, risikonya sangat tinggi, terutama jika konflik meluas dan menyeret negara-negara sekutu ke dalam lingkaran pertempuran.

Peringatan dari Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menjadi salah satu pemicu utama penundaan. Ia menekankan bahwa penyerangan skala besar dapat menguras habis persediaan rudal pencegat yang sudah terbatas, sehingga mengurangi kemampuan respons cepat terhadap ancaman mendadak. Di sisi lain, para pejabat dalam lingkaran kepresidenan secara umum menyatakan bahwa rencana eskalasi tersebut dinilai tidak proporsional dan berpotensi memperburuk krisis energi global serta memicu gelombang migrasi baru.

Sebelum keputusan penundaan, militer AS telah menjalankan serangkaian serangan berturut-turut selama 13 hari terhadap target di Iran. Namun, Presiden telah menghentikan gelombang tersebut sejak 25 Juli, dengan instruksi resmi untuk menahan aksi militer lebih lanjut hingga evaluasi lebih lanjut selesai. Meski belum ada perintah resmi untuk melanjutkan operasi, proses persiapan masih berlangsung dalam tahap internal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya