Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Turki Kehilangan Daya Tarik Harga, Liburan Makin Mahal

Lonjakan biaya pariwisata di Turki akibat kebijakan nilai tukar mata uang menyebabkan penurunan kunjungan turis, meski pendapatan sektor tetap tinggi pada paruh pertama 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 19.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Turki Kehilangan Daya Tarik Harga, Liburan Makin Mahal
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Turki yang dulu dikenal sebagai destinasi liburan terjangkau kini mengalami perubahan signifikan dalam dinamika ekonomi pariwisata. Kemegahan Istanbul, keindahan Cappadocia, dan pantai Mediterania yang eksotis yang dahulu menarik ribuan wisatawan kini mulai ditinggalkan karena biaya operasional yang melonjak drastis. Kenaikan tarif akomodasi, makanan, dan atraksi wisata membuat pengeluaran pelancong asing jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama pada musim panas 2026.

Salah satu contoh nyata adalah biaya jet ski selama 15 menit yang kini mencapai 90 pound sterling (sekitar Rp2,16 juta), naik tajam dari hanya 20 pound sterling (Rp480 ribu) pada tahun sebelumnya. Pasangan asal Inggris, Donna dan Dave Needham, yang rutin berkunjung ke wilayah Mediterania Turki sejak 2021, menyatakan keterkejutannya. Mereka mengaku tidak lagi mampu menginap di resor favorit keluarga karena kenaikan harga yang tidak terjangkau, dan mempertimbangkan untuk memilih destinasi lain tahun depan.

Penyebab utama kenaikan biaya ini berasal dari kebijakan pemerintah Turki yang menahan depresiasi mata uang lira agar tidak melambat terlalu cepat dibandingkan inflasi domestik. Kebijakan ini, meski bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, berdampak langsung pada daya beli wisatawan asing. Hasilnya, harga barang dan jasa bagi pelancong asing terasa jauh lebih mahal, sehingga mengurangi daya tarik Turki sebagai tujuan liburan hemat.

Data resmi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki menunjukkan tren penurunan kunjungan secara konsisten pada semester pertama 2026. Pada Mei, jumlah kunjungan turis menurun 3,6 persen dibanding tahun sebelumnya, kemudian 4 persen pada Juni, dan 0,3 persen pada Juli. Kunjungan dari Inggris sendiri anjlok hingga 11 persen dalam satu bulan terakhir. Meski demikian, pendapatan sektor pariwisata Turki pada semester I 2026 masih mencapai US$25,75 miliar (sekitar Rp455,5 triliun), menunjukkan bahwa meski jumlah pengunjung berkurang, nilai rata-rata per kunjungan justru meningkat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya