Sabtu, 19 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tuyul dan Misteri Kekayaan yang Tak Bisa Dijelaskan Secara Logis

Cerita tuyul sebagai simbol iri hati masyarakat petani terhadap kekayaan mendadak akibat perubahan ekonomi kolonial, bukan sekadar mitos, melainkan refleksi sosial yang terus hidup hingga kini.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 14.46 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 5x dibuka
Tuyul dan Misteri Kekayaan yang Tak Bisa Dijelaskan Secara Logis📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Mitos tentang tuyul, makhluk halus berbadan kecil yang diklaim mampu mengambil uang secara ajaib, kerap menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Namun, pertanyaan mengapa tuyul tidak pernah terlibat dalam pencurian di bank tetap menggantung. Padahal, secara logika, bank adalah tempat penyimpanan uang dalam jumlah besar dan terlindungi. Jawaban atas pertanyaan ini tidak berada di ranah supranatural, melainkan dalam sejarah sosial dan ekonomi yang membentuk kepercayaan tersebut.

Kisah ini terungkap dari latar belakang kolonial Belanda pada akhir abad ke-19, saat kebijakan liberalisasi ekonomi digulirkan menggantikan sistem tanam paksa. Kebijakan ini seolah membuka peluang bagi masyarakat, tetapi pada kenyataannya justru mengubah tanah-tanah rakyat menjadi perkebunan besar dan pabrik gula milik kolonial. Petani kecil yang sebelumnya hidup secara subsisten—hanya menanam untuk kebutuhan sendiri—kini kehilangan akses atas tanah yang menjadi sumber hidup mereka.

Sementara itu, sekelompok pedagang, baik pribumi maupun Tionghoa, justru menjadi kaya secara cepat. Keberhasilan ini tak terlihat secara langsung oleh petani, yang tidak melihat proses kerja keras di balik kekayaan tersebut. Ketidaktahuan ini menimbulkan rasa iri dan kecemburuan. Dalam konteks budaya yang masih kuat dengan nilai moral dan keterbukaan, kekayaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara transparan dianggap mustahil dan harus memiliki sumber tersembunyi.

Maka muncullah konstruksi sosial: kekayaan yang tidak bisa dijelaskan secara logis dianggap hasil dari kerja sama dengan makhluk gaib. Tuyul, sebagai simbol dari kekayaan tak wajar, menjadi alat penjelasan yang mudah diterima. Tidak heran jika pedagang sukses kemudian dicurigai memelihara tuyul, bahkan dianggap "hina" karena dianggap memperoleh kekayaan dengan cara haram. Fenomena ini bukan sekadar mitos, melainkan hasil dari ketegangan sosial akibat ketimpangan ekonomi yang dipicu oleh kebijakan kolonial.

Hingga hari ini, mitos tuyul tetap populer, terutama di masyarakat agraris yang masih mengedepankan nilai-nilai tradisional dan kepercayaan pada keadilan sosial. Cerita ini bukan sekadar hiburan, melainkan warisan sejarah yang menggambarkan bagaimana ketidakadilan ekonomi dapat membentuk imajinasi kolektif. Tuyul, oleh karena itu, bukan sekadar makhluk halus, tetapi cerminan dari kebencian, kecemburuan, dan ketidakmampuan menjelaskan perubahan sosial yang cepat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya