Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Usman Nurmagomedov Bantah Serang Yadong Usai Pertarungan

Usman Nurmagomedov menanggapi tudingan serangan terhadap Song Yadong pasca-kemenangan adiknya, dengan menegaskan bahwa tindakannya adalah bentuk empati, bukan ancaman.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.09 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Usman Nurmagomedov Bantah Serang Yadong Usai Pertarungan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Usman Nurmagomedov angkat bicara menyikapi kontroversi yang muncul setelah pertarungan UFC Shanghai, menyusul dugaan tindakan agresif terhadap petarung China, Song Yadong, saat menyusul adiknya yang terjatuh di ring. Kejadian berlangsung usai Yadong mengalahkan Umar Nurmagomedov melalui KO pada ronde kedua di SPD Bank Oriental Sports Center. Saat Umar tak mampu bangkit, Usman langsung melompat ke dalam octagon untuk membantu adiknya, yang kemudian menimbulkan benturan dengan Yadong yang sedang merayakan kemenangan.

Dalam rekaman pertandingan, terlihat Usman hampir melakukan serangan siku berputar terhadap Yadong, namun sempat menghentikan gerakannya. Insiden itu memicu kritik publik, dengan sebagian pihak menilai Usman sengaja mengganggu momen kemenangan lawan. Namun, dalam pernyataan resmi di media sosial, Usman membantah tudingan tersebut, menekankan bahwa reaksinya muncul dari perasaan empati, bukan dendam.

Ia menegaskan bahwa tindakannya bukan bentuk ancaman, melainkan respons alami terhadap situasi yang sangat emosional. “Jika memang saya berniat menyerang, saya pasti sudah melakukannya,” ujarnya, menekankan bahwa keputusan untuk tidak menyerang adalah kesadaran penuh. Ia menilai kecaman yang muncul justru melebih-lebihkan insiden yang sebenarnya bersifat spontan dan manusiawi.

Usman juga menyampaikan pesan mendalam terkait nilai keluarga dan empati, menilai kritik yang dilayangkan berasal dari orang-orang yang tidak mengenal arti kasih sayang dalam lingkungan keluarga. “Kalian yang penuh kebencian, picik, dan iri hati—masalah kalian adalah kalian tak pernah merasakan kasih sayang sejati,” katanya, menegaskan bahwa dirinya bukan yang perlu dikasihani, melainkan mereka yang menghakimi tanpa memahami konteks.

Pernyataan Usman menunjukkan sikap tenang dan reflektif dalam menghadapi tekanan publik, sekaligus mengingatkan bahwa di balik aksi fisik, ada dimensi emosional yang tak selalu terlihat. Ia menekankan pentingnya memahami situasi sebelum menghakimi, terlebih dalam konteks olahraga yang sarat emosi dan tekanan tinggi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya