Wabah Ebola di Kongo Melonjak Cepat, WHO Soroti Kekurangan Respons
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menunjukkan laju penyebaran tercepat dalam sejarah, dengan lebih dari 2.000 kasus dan 796 kematian dalam dua bulan, mengancam upaya penanganan akibat konflik dan kurangnya akses medis.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 TempoKendari, ıNarasikita - Wabah Ebola yang kini melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) mencatat kecepatan penyebaran tertinggi sepanjang sejarah, dengan jumlah kasus terkonfirmasi melampaui 2.000 dan angka kematian mencapai 796 orang dalam kurun waktu dua bulan. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa laju penularan dalam satu bulan terakhir jauh melampaui semua wabah sebelumnya, termasuk wabah besar 2018–2020 yang membutuhkan lebih dari sepuluh bulan untuk mencapai angka serupa.
Kasus terdeteksi di lima provinsi DRC, dengan Ituri menjadi pusat penyebaran utama. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, dan sekitar delapan puluh persen kasus baru muncul di luar lingkaran kontak yang telah diketahui, menunjukkan adanya penularan tersembunyi. Bahkan, dua pertiga korban meninggal di masyarakat tanpa pernah mendapat perawatan medis, mengindikasikan kegagalan sistem pendeteksian dan akses layanan kesehatan.
Spesies virus Bundibugyo yang menyebabkan wabah ini sangat langka dan belum memiliki vaksin atau terapi resmi. Namun, upaya penelitian telah diluncurkan secara mendesak, termasuk uji coba antibodi MBP134 dan obat antivirus remdesivir di Ituri sejak 2 Juli. Uji coba vaksin ChAdOx1 dari Universitas Oxford juga telah dimulai, disusul uji efektivitas obeldesivir sebagai profilaksis pasca-paparan bagi yang berisiko tinggi.
Kemajuan dalam kapasitas kesehatan tercatat, dengan peningkatan tempat tidur perawatan hingga 800 dan jumlah laboratorium meningkat dari satu menjadi 16. Namun, ancaman utama tetap berasal dari konflik bersenjata di Ituri, yang mengganggu akses ke wilayah terdampak. Pada Rabu, sebuah pusat perawatan di Bunia diserang, memperparah ketidakstabilan operasional. WHO menekankan perlunya dukungan internasional mendesak, menyebut kekurangan dana mencapai lebih dari 400 juta dolar AS untuk menangani wabah secara menyeluruh.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pezeshkian Tegaskan Ketahanan Iran Hadapi Tekanan AS-Israel
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tekad negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan AS dan Israel dalam pidato di New Delhi, sementara India soroti risiko keamanan maritim dan ketergantungan energi akibat krisis di Selat Hormuz.
12 September 2026

Volkswagen Siapkan PHK 60 Ribu Karyawan, Biaya Capai Rp334 Triliun
Perusahaan otomotif Jerman Volkswagen akan menanggung biaya hingga 16 miliar euro atau sekitar Rp334 triliun untuk restrukturisasi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja hingga 60.000 karyawan secara global.
12 September 2026

Harga Bensin AS Tembus Rp72,7 Juta per Galon Akibat Ketegangan AS-Iran
Lonjakan harga bensin di AS mencapai Rp72,7 juta per galon menjelang Labor Day, dipicu serangan militer terhadap Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
8 September 2026

JLR Siap PHK 4.000 Karyawan Akibat Tekanan Persaingan Global
Jaguar Land Rover mengumumkan pemangkasan 4.000 posisi kerja sebagai respons terhadap tekanan kompetitif dari mobil China dan ketidakpastian pasar global.
8 September 2026
Berita Lainnya

Batasi Daya Baterai di Bawah 50% Saat Angkut Mobil Listrik via Kapal
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Jakarta Diminta Evaluasi Kebutuhan Utang Sebelum Terbitkan Obligasi
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Indonesia Perkuat Nelayan Skala Kecil Melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

Harga BBM Non Subsidi Naik Per 1 September 2026
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Polisi Thailand Bekuk Sindikat Obat Diet Ilegal Senilai Rp26,7 M
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi
Sabtu, 12 September 2026, 22.35 WITA


