Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wabah Ebola di Kongo Melonjak Cepat, WHO Soroti Kekurangan Respons

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menunjukkan laju penyebaran tercepat dalam sejarah, dengan lebih dari 2.000 kasus dan 796 kematian dalam dua bulan, mengancam upaya penanganan akibat konflik dan kurangnya akses medis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Wabah Ebola di Kongo Melonjak Cepat, WHO Soroti Kekurangan Respons📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Wabah Ebola yang kini melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) mencatat kecepatan penyebaran tertinggi sepanjang sejarah, dengan jumlah kasus terkonfirmasi melampaui 2.000 dan angka kematian mencapai 796 orang dalam kurun waktu dua bulan. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa laju penularan dalam satu bulan terakhir jauh melampaui semua wabah sebelumnya, termasuk wabah besar 2018–2020 yang membutuhkan lebih dari sepuluh bulan untuk mencapai angka serupa.

Kasus terdeteksi di lima provinsi DRC, dengan Ituri menjadi pusat penyebaran utama. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, dan sekitar delapan puluh persen kasus baru muncul di luar lingkaran kontak yang telah diketahui, menunjukkan adanya penularan tersembunyi. Bahkan, dua pertiga korban meninggal di masyarakat tanpa pernah mendapat perawatan medis, mengindikasikan kegagalan sistem pendeteksian dan akses layanan kesehatan.

Spesies virus Bundibugyo yang menyebabkan wabah ini sangat langka dan belum memiliki vaksin atau terapi resmi. Namun, upaya penelitian telah diluncurkan secara mendesak, termasuk uji coba antibodi MBP134 dan obat antivirus remdesivir di Ituri sejak 2 Juli. Uji coba vaksin ChAdOx1 dari Universitas Oxford juga telah dimulai, disusul uji efektivitas obeldesivir sebagai profilaksis pasca-paparan bagi yang berisiko tinggi.

Kemajuan dalam kapasitas kesehatan tercatat, dengan peningkatan tempat tidur perawatan hingga 800 dan jumlah laboratorium meningkat dari satu menjadi 16. Namun, ancaman utama tetap berasal dari konflik bersenjata di Ituri, yang mengganggu akses ke wilayah terdampak. Pada Rabu, sebuah pusat perawatan di Bunia diserang, memperparah ketidakstabilan operasional. WHO menekankan perlunya dukungan internasional mendesak, menyebut kekurangan dana mencapai lebih dari 400 juta dolar AS untuk menangani wabah secara menyeluruh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya