Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Walmart Gencar Otomatisasi Gudang, Tantangan Teknis Muncul

Walmart menghadapi berbagai hambatan dalam otomatisasi gudang dengan robot, termasuk kardus tak sesuai dan perangkat yang sering rusak, meski tetap berkomitmen pada transformasi jangka panjang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 09.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Walmart Gencar Otomatisasi Gudang, Tantangan Teknis Muncul📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Walmart Inc. terus memperluas program otomatisasi di fasilitas distribusi utamanya di Amerika Serikat, dengan investasi miliaran dolar AS untuk menggantikan sebagian pekerjaan manusia di gudang dengan robot. Proyek ini, yang telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade lalu, menargetkan pengurangan ketergantungan pada tenaga manual dalam tugas seperti membongkar truk, menyortir barang, dan mengirimkan produk ke toko maupun pelanggan. Dalam satu shift, pekerja manusia biasanya berjalan hingga 20.000 langkah, aktivitas yang dianggap efisien bagi manusia tetapi kompleks untuk direplikasi secara otomatis.

Namun, proses transisi tidak berjalan mulus. Salah satu tantangan utama muncul dari desain kardus pengiriman yang digunakan selama lebih dari dua puluh tahun—ukurannya terlalu besar untuk sistem robotik otomatis. Robot mini yang dilengkapi sensor gerak dan deteksi rintangan baru bisa diterapkan di lebih dari selusin gudang, tetapi masih mengalami kegagalan dalam menangani produk besar seperti karung makanan anjing jumbo. Akibatnya, Walmart memutuskan mengganti seluruh kardus lama dengan versi yang lebih pendek 1,5 inci dan harus direkatkan dengan lakban, menambah biaya operasional.

Kendala teknis juga muncul dari debu yang mengganggu fungsi robot, bahkan menyebabkan kemacetan berantai dalam sistem. Mitra utama Walmart dalam proyek ini, Symbotic, mengakui kesulitan memenuhi target throughput yang ditetapkan. Meski sebagian besar robot kini berada dalam kondisi baik—dengan hanya sekitar 5% dalam perbaikan dalam beberapa bulan terakhir—masih diperlukan penyesuaian berkelanjutan. Salah satu insiden menonjol terjadi saat lengan robot di gudang California gagal menangani kalkun beku besar menjelang libur Thanksgiving, memaksa penyaluran dari gudang lain untuk menutupi kekurangan pasokan.

Dorongan utama di balik transformasi ini berasal dari persaingan ketat dengan Amazon, yang telah unggul dalam otomatisasi dan menyalip Walmart sebagai perusahaan ritel terbesar di AS berdasarkan pendapatan tahunan. Kegagalan beberapa peritel lain, seperti Kroger yang menutup tiga pusat pemenuhan otomatis dengan kerugian hingga US$2,6 miliar, menunjukkan risiko besar dalam investasi semacam ini. Namun, Walmart menegaskan bahwa proyek ini tidak akan menyebabkan PHK, karena tingkat pergantian pekerja gudang secara alami tinggi dan kebutuhan tenaga kerja tetap stabil seiring pertumbuhan penjualan.

Pemimpin operasional rantai pasok Walmart, Rob Montgomery, menyatakan bahwa otomatisasi adalah proyek jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan kolaborasi kuat. Ia menekankan bahwa menunggu keadaan sempurna akan terlalu lama, sehingga perlu berjalan meski dengan tantangan. Investasi terbesar dalam renovasi gudang dan otomatisasi diperkirakan akan mencapai puncak pada tahun ini dan tahun depan, dengan dukungan penuh dari jajaran direksi dan dewan perusahaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya