Waspada Proyek Apartemen Mangkrak, Ini Kunci Beli Aman
Calon pembeli apartemen harus cermat mengecek legalitas, rekam jejak pengembang, dan progres konstruksi untuk hindari risiko kegagalan penyelesaian proyek.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pasar apartemen kelas menengah kini menjadi pilihan utama masyarakat perkotaan yang mencari hunian terjangkau. Namun, di tengah tren ini muncul risiko besar akibat maraknya proyek yang terhenti atau bahkan mangkrak tanpa kejelasan. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap transaksi pre-sale, di mana pembeli sejatinya membeli janji pengembang, bukan unit yang sudah jadi.
Ahli riset dari Colliers Indonesia menekankan bahwa pembelian apartemen bukan sekadar pertimbangan harga, melainkan juga kepastian penyerahan sesuai waktu dan spesifikasi. Konsumen perlu memastikan legalitas proyek dan kepemilikan tanah sebelum melakukan pembayaran. Selain itu, pemantauan perkembangan fisik konstruksi secara rutin menjadi kewajiban agar tidak terjebak dalam proyek yang stagnan.
Penting pula untuk meneliti secara menyeluruh isi Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), terutama ketentuan tenggat waktu serah terima dan sanksi jika terjadi keterlambatan. Bagi yang memiliki kapasitas finansial, memilih unit ready stock atau proyek dengan progres konstruksi maju menjadi alternatif lebih aman. Prinsip utama bagi pembeli pertama kali adalah bukan hanya "mampu bayar", tapi juga "mampu menanggung risiko" dari ketidakpastian penyelesaian proyek.
Masalah utama di balik kegagalan proyek berasal dari keterbatasan modal pengembang yang tidak sesuai dengan skala pembangunan apartemen, yang membutuhkan dana besar dan manajemen arus kas yang cermat. Banyak pengembang nekat memulai proyek tanpa izin resmi atau dengan dana terbatas, bahkan berani menjanjikan pembangunan dua menara dengan modal hanya Rp 25–50 miliar. Kondisi ini diperparah oleh ketidakselarasan antara harga jual dan daya beli masyarakat menengah, di mana harga ideal seharusnya berkisar antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Bulog Rencanakan Bangun 100 Gudang Baru untuk Kurangi Sewa
Bulog berencana membangun 100 gudang penyimpanan baru guna mengurangi ketergantungan pada sewa kapasitas 2,1 juta ton akibat lonjakan stok beras nasional.
10 Oktober 2026

ADB Diminta Perkuat Investasi di SDM dan Infrastruktur Sosial
Kepala Bappenas meminta ADB tingkatkan dukungan untuk pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur sosial, dan digital sebagai fondasi transformasi pembangunan nasional.
10 Oktober 2026

Pemkab Aceh Tenggara Percepat Pembangunan Jembatan Gaya Jaya
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara membangun jembatan penghubung di Desa Gaya Jaya untuk memperbaiki akses ekonomi masyarakat, khususnya petani kelapa sawit.
10 Oktober 2026

Blok M Dikembangkan Jadi Kawasan Transit Modern
Jakarta Selatan akan menyulap Blok M menjadi kawasan berorientasi transit dengan dua tower baru, mal, hotel, dan ruang publik, tanpa menghilangkan ciri khasnya.
10 Oktober 2026
Berita Lainnya

Prabowo Dorong 100 Kampung Nelayan Siap Operasional Akhir 2026
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.30 WITA

Dedi Congor Absen Pemeriksaan KPK karena Sakit, Penyidik Jadwalkan Ulang
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Sewa Bong dan Lapak Narkoba di Dua Kampung di Jakarta Barat
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Dua Tersangka Pembunuhan di Jaktim Diamankan Polisi
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Jakarta Ungguli New York dalam Tata Kelola Transportasi
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.28 WITA

22 Penyu Hijau Gagal Diselundupkan di Perairan Serangan
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.27 WITA

Malaysia Naikkan Upah Minimum ke Rp8,7 Juta Mulai 2027
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.27 WITA

Digitalisasi Manajemen ASN Kemenkum 2027, Otomatisasi Pengawasan Kinerja
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.26 WITA

