Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Waspada Proyek Apartemen Mangkrak, Ini Kunci Beli Aman

Calon pembeli apartemen harus cermat mengecek legalitas, rekam jejak pengembang, dan progres konstruksi untuk hindari risiko kegagalan penyelesaian proyek.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
Waspada Proyek Apartemen Mangkrak, Ini Kunci Beli Aman📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar apartemen kelas menengah kini menjadi pilihan utama masyarakat perkotaan yang mencari hunian terjangkau. Namun, di tengah tren ini muncul risiko besar akibat maraknya proyek yang terhenti atau bahkan mangkrak tanpa kejelasan. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap transaksi pre-sale, di mana pembeli sejatinya membeli janji pengembang, bukan unit yang sudah jadi.

Ahli riset dari Colliers Indonesia menekankan bahwa pembelian apartemen bukan sekadar pertimbangan harga, melainkan juga kepastian penyerahan sesuai waktu dan spesifikasi. Konsumen perlu memastikan legalitas proyek dan kepemilikan tanah sebelum melakukan pembayaran. Selain itu, pemantauan perkembangan fisik konstruksi secara rutin menjadi kewajiban agar tidak terjebak dalam proyek yang stagnan.

Penting pula untuk meneliti secara menyeluruh isi Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), terutama ketentuan tenggat waktu serah terima dan sanksi jika terjadi keterlambatan. Bagi yang memiliki kapasitas finansial, memilih unit ready stock atau proyek dengan progres konstruksi maju menjadi alternatif lebih aman. Prinsip utama bagi pembeli pertama kali adalah bukan hanya "mampu bayar", tapi juga "mampu menanggung risiko" dari ketidakpastian penyelesaian proyek.

Masalah utama di balik kegagalan proyek berasal dari keterbatasan modal pengembang yang tidak sesuai dengan skala pembangunan apartemen, yang membutuhkan dana besar dan manajemen arus kas yang cermat. Banyak pengembang nekat memulai proyek tanpa izin resmi atau dengan dana terbatas, bahkan berani menjanjikan pembangunan dua menara dengan modal hanya Rp 25–50 miliar. Kondisi ini diperparah oleh ketidakselarasan antara harga jual dan daya beli masyarakat menengah, di mana harga ideal seharusnya berkisar antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya