Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Xi Jinping Siapkan Tur Global Pasca Kunjungan ke Korut

Presiden China Xi Jinping memulai serangkaian kunjungan internasional setelah tujuh tahun vakum, menyusul pertemuan puncak SCO dan menjelang pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 11.32 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
Xi Jinping Siapkan Tur Global Pasca Kunjungan ke Korut📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden China Xi Jinping resmi memulai tur diplomatik global setelah absen selama tujuh tahun dari perjalanan ke luar negeri. Kunjungan ini dimulai dari Kirgistan untuk menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), lalu dijadwalkan menyusul kunjungan kenegaraan ke Mesir—pertama kalinya dalam satu dekade—dan kemungkinan besar ke India dalam pertemuan puncak BRICS di New Delhi. Langkah ini menandai pergeseran strategis dalam diplomasi Beijing, yang kini lebih aktif menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik dan kompleksitas hubungan global.

Kehadiran Xi di berbagai forum internasional menjadi indikator penting atas prioritas politik Beijing di tengah dinamika ekonomi dan keamanan global. Sebelumnya, kunjungan ke Korea Utara pada bulan Juni 2026 menjadi satu-satunya perjalanan luar negeri yang dilakukan dalam setahun terakhir. Sebaliknya, lebih dari 20 pemimpin negara, termasuk Presiden AS Donald Trump, telah berkunjung ke Beijing sejak awal tahun, menunjukkan kecenderungan China menjadi pusat diplomasi global yang lebih proaktif.

Dalam konteks ini, analis dari CSIS menilai bahwa pergerakan Xi mencerminkan upaya Beijing untuk memperkuat peran sebagai penyedia barang publik global, terutama dalam isu keamanan rantai pasok, distribusi energi melalui Selat Hormuz, serta stabilitas siber. Di sisi lain, ketegangan perdagangan dengan AS, ancaman keamanan dari perkembangan kecerdasan buatan, dan keterlibatan aktif dalam forum seperti SCO dan BRICS menambah kompleksitas lanskap diplomasi global.

Pertemuan dengan Presiden Trump yang dijadwalkan pada 24 September diperkirakan akan membahas isu teknologi, khususnya pembatasan penggunaan kecerdasan buatan canggih serta kerja sama riset kanker. Direktur Studi Politik Internasional dari Akademi Sosial Ilmu Tiongkok, Hai Zhao, menekankan bahwa jika teknologi canggih jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab, dampaknya akan merugikan seluruh sistem ekonomi global. Di India, normalisasi hubungan dengan Tiongkok terus berlanjut melalui pemulihan penerbangan langsung dan pelonggaran aturan investasi, meski persoalan perbatasan dan persaingan teknologi masih menjadi tantangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya